JURNAL
PENGEMBANGAN
MEDIA PEMBELAJARAN EKONOMI BERBASIS SINEMATOGRAFI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI
BELAJAR
THE DEVELOPMENT
OF ECONOMIC LEARNING MEDIA CINEMATOGRAPHY BASED TO INCREASE THE LEARNING
MOTIVATION
Oleh :
Amalia Rahmi Hanum,
S.Pd
MT s Assalafiyyah
Mlangi
Cp; 085749226537
Abstrak
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pengembangan media pembelajaran ekonomi
berbasis sinematografi, mendapatkan media pembelajaran ekonomi berbasis
sinematografi yang layak digunakan sebagai media pembelajaran, dan peran media
pembelajaran ekonomi berbasis sinematografi dalam meningkatkan motivasi belajar
peserta didik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan. Penelitian
dilaksanakan di MAN Yogyakarta III. Teknik pengumpulan data menggunakan angket
dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil
penelitian menunjukkan prosedur pengembangan media pembelajaran ekonomi melalui
antara lain tahap pra produksi, produksi, pasca produksi, validasi dan
evaluasi, serta ujicoba I dan II. Media pembelajaran ekonomi berbasis
sinematografi dinilai layak dan terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar
peserta didik.
Kata Kunci: media pembelajaran,
sinematografi, motivasi belajar
Abstract
This study aims
to determine the procedures of the development of economic learning media
cinematography based, finding the economic learning media cinematography based
which is appropriate learning media, and knowing the roles of learning media
cinematography based to increase the students learning motivation. This study
is kind of research and development. This study was conducted at MAN Yogyakarta
III. The techniques of collecting the data use questionnaires and interviews.
The technique for analyzing data use decriptive analysis. The result of the
study were as follows learning media cinematography based is developed from pre
production, production, post production, validation and evaluation, trail I,
and trail II. The assessment of learning media cinematography based is good and
can increase the students learning motivation.
Keywords:
learning media, cinematography, learning motivation.
PENDAHULUAN
Pendidikan
merupakan kunci utama terbentuknya sumber daya manusia yang kompeten dalam
membangun bangsa. Melalui pendidikan diharapkan tercipta manusia yang
berkualitas, kreatif, dan produktif. Selain itu dengan pendidikan mampu
meningkatkan diri seseorang dalam segala aspek. Pendidikan merupakan suatu
usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh pendidik melalui bimbingan,
pengajaran, dan latihan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik aktif yang mengarah pada tercapainya pribadi
yang dewasa (UU No. 20 Tahun 2003). Oleh karena itu, pendidikan selayaknya
diselenggarakan secara demokratis sehingga menghasilkan pendidikan yang bermutu
bagi setiap warga negara.
Peran
dan fungsinya yang penting maka perlu adanya perbaikan mutu pendidikan yang
dilakukan secara terus menerus. Perbaikan ini meliputi sistem maupun prosesnya.
Proses pembelajaran merupakan komponen penting dalam pendidikan karena melalui
proses yang baik maka tujuan pendidikan mampu dicapai.
Arief
S. Sadiman (2006: 12) menyatakan proses belajar mengajar merupakan proses
komunikasi, yakni proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui media
tertentu ke penerima pesan. Pesan tersebut berisi materi pelajaran yang oleh
guru disampaikan melalui verbal maupun non verbal. Proses penyampaian tersebut
dinamakan encoding. Peserta didik kemudian menerima dan menafsirkan
pesan tersebut yang prosesnya disebut decoding. Dapat disimpulkan bahwa
kegiatan belajar mengajar merupakan proses komunikasi antara peserta didik
sebagai penerima pesan dan pembelajar serta guru sebagai penyampai pesan dan
pengajar.
Proses
penafsiran atau decoding tidak selalu berhasil. Misalnya guru memberikan
informasi berupa A kepada 4 peserta didik yang ada di kelas. Proses penafsiran
yang berhasil ditandai dengan kesamaan informasi yang diberikan guru kepada
peserta didik yakni A. Proses penafsiran yang tidak berhasil dapat disebabkan
oleh gaya belajar peserta didik yang berbeda-beda. Sugihartono (2007: 52)
menjelaskan bahwa gaya belajar berhubungan dengan cara anak belajar dan cara
belajar yang disukai termasuk memproses informasi dengan cara yang berbeda.
Sering
dijumpai proses pembelajaran di sekolah hanya menempatkan peserta didik sebagai
objek yang selalu diberikan beragam materi yang jumlahnya cukup banyak. Tidak
jarang materi ajar yang diberikan kurang dipahami oleh peserta didik dan
cenderung dihafalkan. Selain itu, metode pembelajaran yang digunakan masih
didominasi oleh metode ceramah. Pada kondisi tertentu metode ceramah perlu
untuk diterapkan namun jika dilakukan secara terus menerus dan tanpa variasi
akan mengakibatkan kebosanan pada peserta didik yang berdampak pada rendahnya
motivasi peserta didik dalam pembelajaran.
Fasli
Jalal Wakil Menteri Pendidikan dalam diskusi panel Pendidikan Profesi Guru di
Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Universitas Atma Jaya (2010) menyatakan
bahwa guru masih terlalu dominan di kelas. Proses belajar mengajar di sekolah
kerap membosankan. Peserta didik tidak diberikan kebebasan untuk mengekspreksikan
pendapat yang berbeda sehingga mematikan kreativitas peserta didik. Kegitan
belajar mengajar tersebut lebih berpusat pada guru (teacher center) yang
mengakibatkan hanya terjadinya komunikasi satu arah.
Motivasi
dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai energi atau dorongan dalam diri
peserta didik untuk melakukan aktivitasnya yakni belajar, mengikuti proses
belajar mengajar (Oemar Hamalik. 2011: 158). Motivasi dan kegiatan belajar
memiliki hubungan yang erat karena dengan adanya motivasi pada subjek belajar
yakni peserta didik maka kegiatan belajar akan menjadi lebih terkondisi,
peserta didik tertarik untuk mengikuti kegiatan belajar.
Mengikuti
perkembangan zaman dan tuntutan globalisasi yang semakin besar maka proses
pembelajaran tidak mungkin hanya menggunakan pola konvensional saja terutama
pada mata pelajaran ekonomi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mendukung
perkembangan dunia pendidikan dalam
mengembangkan dan menciptakan hal baru, yang meliputi metode pembelajaran dan media
pembelajaran yang semakin interaktif dan inovatif. Media yang biasanya
digunakan seperti media teks, video, dan audio kemudian saat ini berkembang menjadi
lebih bervariasi menjadi grafis, foto, dan animasi.
Aneka
media yang berkembang saat ini digabungkan menjadi satu kesatuan yang akan
menghasilkan informasi yang tidak hanya dapat dilihat sebagai cetakan,
melainkan juga dapat didengar, membentuk simulasi, dan animasi yang dapat
membangkitkan selera dan memiliki nilai grafis yang tinggi dalam penyajiannya.
Azhar Arsyad (2003: 20) mengemukakan manfaat media yakni mampu memotivasi minat
atau tindakan. Hiburan dalam media akan meahirkan minat dan merangsang peserta
didik untuk belajar. Arief S. Sadiman (2006: 17) juga menjelaskan media dapat
memudahkan guru dalam mengatasi gaya belajar peserta didik yang berbeda-beda.
Berdasarkan
hasil observasi awal yang dilakukan di MAN Yogyakarta III ditemukan beberapa permasalahan
dalam pembelajaran ekonomi. Beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain
guru dalam proses pembelajaran kurang mengoptimalkan penggunaan media
pembelajaran. Sampai saat ini media yang sering digunakan adalah teksbook,
LKS, dan kadang divariasi dengan slide powerpoint. Guru belum
menggunakan media pembelajaran yang lain karena guru menganggap teksbook
dan LKS merupakan media yang mudah dalam penggunaannya. Guru pun mengakui bahwa
media pembelajaran yang biasa digunakan sudah tidak menarik lagi bagi peserta
didik. Hal ini menyebabkan peserta didik merasa pembelajaran ekonomi
membosankan, materi susah dipahami, terlalu banyak hafalan, dan beberapa
keluhan lain.
Selain
kurangnya pemanfaatan media, guru juga kurang mengoptimalkan penggunaan LCD. LCD
hanya digunakan jika guru dalam proses pembelajaran menggunakan media slide
powerpoint. Selain itu guru kurang mengoptimalkan keberadaan laboratorium
yang disediakan sekolah. Laboratorium komputer, laboratorium IPS, serta ruang
referensi perpustakaan jarang sekali digunakan padahal dilengkapi dengan
peralatan multimedia seperti komputer, DVD player, dan alat peraga. Guru
juga menuturkan bahwa peserta didik kelas X memiliki motivasi yang masih rendah
pada mata pelajaran ekonomi. Ekonomi dianggap mata pelajaran yang sukar karena
banyak teori yang harus dihafalkan sehingga sulit untuk dipahami dan akan
hilang begitu saja seiring dengan tambahan materi-materi baru.
Maka
guru perlu memilih media pembelajaran yang mampu memvisualisasikan materi
pelajaran ekonomi sehingga peserta didik mudah memahami, lebih perhatian pada
pelajaran, motivasi meningkat, dan kegiatan belajar mengajar menjadi
menyenangkan.
Berdasarkan
latar belakang di atas peneliti ingin mengembangkan media pembelajaran ekonomi
berbasis sinematografi yang diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar peserta
didik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur pengembangan
media pembelajaran ekonomi berbasis sinematografi, mendapatkan
media pembelajaran ekonomi berbasis sinematografi yang layak digunakan sebagai
media pembelajaran, dan peran media pembelajaran dalam meningkatkan motivasi belajar
peserta didik.
Media
pembelajaran ekonomi berbasis sinematografi merupakan salah satu inovasi media
pembelajaran ekonomi. Media berbasis sinematografi ini berbentuk film pendek
yang berdurasi kurang dari 40 sampai 60 menit. Film ini dipersiapkan khusus
dengan memperhatikan sisi edukatif dan entertaining. Film memberikan
unsur kognitif berupa pemahaman materi melalui alur cerita dan tidak lupa
pemberian pesan moral sebagai tambahan karakter bagi peserta didik. Hal ini
sejalan dengan yang diungkapkan Oemar Hamalik (2011: 168) bahwa film pendidikan
akan menarik perhatian dan minat peserta didik dalam belajar. Film juga
memberikan gairah belajar pada peserta didik.
Seperti
yang disampaikan oleh Rebecca Anrini (2012) bahwa film juga merupakan salah
satu media belajar dalam dunia pendidikan. Tak jarang karena pengaruh film,
seorang anak berusaha menirukan adegan yang mereka lihat. Film tidak hanya
untuk diperdagangkan namun diperhatikan untuk pendidikan. Film memberikan pesan
dan kesan yang dapat diterima oleh peserta didik karena film menampilkan suatu
proses yang lebih mudah dipahami (Dini Indriana, 2011: 92).
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini merupakan penelitian dan pengembangan (research and development)
yaitu penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji
keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2009: 407). Penelitian dilaksanakan di
MAN Yogyakarta III yang beralamay di Jl. Magelang Km 4 Sinduadi, Mlati, Sleman,
Yogyakarta
pada bulan Mei 2013.
Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X MAN Yogyakarta III
yang berjumlah 224 peserta didik yang terdiri dari 3 kelas RMBI dan 4 kelas reguler.
Teknik sampel yang digunakan adalah cluster random sampling.
Proses
pengembangan media pembelajaran ekonomi berbasis sinematografi melalui beberapa
tahap yang diadaptasi dari Karen S. Ivers (2002: 21-23) dan Yunanto
Urbani Happi dkk (2012: 3-9). Pada penelitian ini teknik pengumpulan data yang
digunakan yaitu angket dan wawancara. Angket untuk mengumpulkan data kelayakan
media pembelajaran yang diperoleh dari ahli materi, ahli media, dan peserta
didik. Selain itu angket digunakan untuk mengukur motivasi belajar peserta
didik dengan indikator perhatian dalam pelajaran, ketertarikan dalam pelajaran,
dan adanya hasrat untuk berhasil. Teknik analisis data menggunakan analisis
dekskriptif.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Prosedur
pengembangan melalui tahap pra produksi yang terdiri dari pengumpulan data
berupa informasi awal proses pembelajaran di kelas yang dirasa masih monoton
oleh peserta didik dan materi yang kurang dipahami oleh peserta didik yakni
materi perbankan. Kemudian pembuatan konsep berupa sinopsis, naskah cerita, storyboard,
dan working schedule.
Tahap
kedua yakni proses produksi yang terdiri dari video processing
(pengambilan gambar) dan audio processing (pengambilan suara). Tahap
ketiga yakni pasca produksi yang terdiri dari editing & mixing
dengan adobe premiere pro, pemberian special FX, dan final
editing. Setelah prosedur pengembangan dilaksanakan dan menghasilkan produk
maka produk tersebut dinilai kelayakannya oleh ahli materi dan ahli media.
Tahap terakhir yakni pengujian media pembelajaran dalam ujicoba I dan II.
Hasil
penilaian media pembelajaran ekonomi berbasis sinematografi oleh ahli materi
dengan skor 3,8 pada aspek materi dan skor 4 pada aspek pembelajaran menunjukkan
bahwa media dinilai kategori baik dan layak diujicobakan. Hasil penilaian media oleh ahli media mendapat skor 4,2 pada
aspek umum, skor 4,1 pada aspek sinematografi, dan skor 4,4 pada aspek
pembelajaran menunjukkan bahwa media dinilai kategori baik dan layak
diujicobakan.
Pada
tahap ujicoba I dengan skor 3,7 dan ujicoba II dengan skor 3,8 media kembali
dinilai baik oleh peserta didik. Hal ini
sejalan dengan yang diungkapkan Azhar Arsyad (2003: 181) mengenai penilaian
pada media film harus memiliki kriteria yakni media dapat membangkitkan minat
dan perhatian peserta didik, kualitas teknis, dan adanya kesempatan untuk
latihan.
Hasil
dari angket motivasi belajar peserta didik menunjukkan bahwa terjadi
peningkatan motivasi belajar setelah digunakannya media pembelajaran ekonomi
berbasis sinematografi. Peningkatan motivasi belajar terdistribusi secara
merata dari sangat rendah sapai sangat tinggi. Prosentase sangat rendah yakni
20,3% sebanyak 12 peserta didik, rendah 11,9% sebanyak 7 peserta didik, sedang
23,7% sebanyak 14 orang, tinggi 28,8% sebanyak 17 peserta didik, dan sangat
tinggi 15,3% sebanyak 9 peserta didik. Peningkatan motivasi paling banyak masuk
dalam kategori tinggi yakni 28,8% sebanyak 17 peserta didik. Tidak ditemukan
peserta didik yang mengalami penurunan motivasi belajar peserta didik setelah
digunakannya media pembelajaran ekonomi berbasis sinematografi.
Terbukti
bahwa media film mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Hal
ini sejalan dengan pendapat dari Oemar Hamalik (2011: 168) bahwa film
pendidikan merupakan salah satu cara untuk menggerakkan motivasi belajar
peserta didik. Peserta didik akan senang dengan gambaran yang disajikan dalam
film. Film yang dikembangkan dengan isi cerita yang dekat dengan kehidupan
sehari-hari seperti yang dialami peserta didik akan lebih menarik perhatian dan
ketertarikan dalam belajar.
KESIMPULAN DAN
SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka
dapat ditarik kesimpulan 1) prosedur pengembangan media pembelajaran diadaptasi
dari Karen Ivers dan Ann E Barron kemudian dirumuskan menjadi tahap pra
produksi, produksi, pasca produksi, validasi dan evaluasi, ujicoba I, dan
ujicoba II. 2) penilaian kelayakan media
dari ahli materi, ahli media, dan peserta didik diperoleh hasil bahwa
media dinilai dalam kategori baik dan dinyatakan layak untuk diujicobakan. 3)
media pembelajaran ekonomi berbasis sinematografi terbukti mampu meningkatkan
motivasi belajar peserta didik. Peningkatan terdistribusi secara merata dari
sangat rendah sampai sangat tinggi. Peningkatan motivasi belajar peserta didik
paling besar dalam kategori tinggi yakni 28,8% sebanyak 17 peserta didik.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakkukan maka
saran yang dapat diberikan adalah 1) Guru hendaknya menggunakan variasi media
dalam proses pembelajaran agar peserta didik mampu memahami materi pelajaran
dan meningkatkan motivasi belajar peserta didik. 2) Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa media pembelajaran ekonomi terbukti mampu meningkatkan
motivasi belajar dengan nilai paling besar yakni 28,8% sebanyak 17 orang. Oleh
karena itu bagi peneliti selanjutnya perlu memasukan variabel hasil belajar dan
variabel lainnya dalam penelitian.
.
Comments
Post a Comment