Skip to main content

Imam Ibnu Qoyyim dan Ibnu Khaldun

Imam Ibnu Qoyyim

         Nama lengkap Imam Ibnu Qoyyim adalah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Haris Az Zar’i ad Damasqy. Beliau adalah seorang putra pendiri Madrasah “Al Jauziat” (Qoyyim Al Jauziat) di Damaskus. Dari situlah beliau terkenal dengan sebutan Ibnu Qoyyim Al Jauziat. Salah satu pemikiran Imam Ibnu Qoyyim adalah tentang pentingnya pendidikan dalam sebuah keluarga. Beliau juga menekankan tentang pendidikan sejak di masa kandungan.  Salah satu kitab Imam Ibnu Qoyyim yang membahas pendidikan sejak  dalam kandungan adalah “ Tuhfah Al Maudud bi Ahkam Al Maulud”.  Penulis buku ini menyatakan bahwa menurut penelitian ilmuwan barat, bahwa seorang ibu yang sedang mengandung anaknya, disarankan untuk mendengarkan musik klasik untuk membantu kecerdasan anaknya di kandungan. Pernyataan penulis buku ini bertentangan dengan paham yang dianut oleh Imam Ibnu Qoyyim, karena beliau termasuk ulama yang menentang musik, karena musik dapat melalaikan manusia dari Al Qur’an dan dzikrulloh. 
        Prinsip pendidikan prenatal menurut Ibnu Qoyyim dengan berlandaskan pemahaman beliau bahwa pada saat menjadi janin, maka bayi telah memiliki fungsi pendengaran, penglihatan, dan hati sejak ditiupkan ruh kepadanya.Alloh berfirman di dalam Qur’an surat An Nahl yang artinya,”Dan Alloh mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadan tidak mengerti sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.”(QS An Nahl : 78). Ibnu Qoyyim menafsirkan ayat ini adalah bukti bahwa pada saat janin dalam kandungan telah dianugerahi daya pendengaran, penglihatan dan hati serta memiliki fungsi ditiupkan ruh kepadanya. Dari pernyataan Ibnu Qoyyim di atas dapat dipahami bahwa manusia sejak berbentuk janin dalam kandungan sudah memiliki fungsi pendengaran, fungsi penglihatan, dan fungsi hati. Dari fungsi-fungsi tersebut, janin bisa berinteraksi dengan keadaan internal dan eksternal rahim dan pendidikan dapat diterapkan pada janin. Tarbiyah menurut ibnu qoyyim mencakup tarbiyah qolb (pendidikan hati) dan tarbiyah badan secara sekaligus. Definisi pendidikan yang dinyatakan ibnu qoyyim ini mencakup dua makna, yakni : pertama, pendidikan yang berkaitan dengan ilmu seorang murobbi, yakni pendidikan yang dilakukan seorang murobbi terhadap ilmunya agar ilmu tersebut menjadi sempurna dan menyatu dalam dirinya di samping itu pula agar  ilmu tersebut terus bertambah. Kedua, pendidikan yang berkaitan dengan orang lain, yakni kerja pendidikan yang dilakukan oleh seorang murobbi dalam mendidik manusia dengan ilmu yang dimilikinya dan dengan ketekunannya menyertai mereka agar mereka menguasai ilmu yang diberikan kepadanya secara bertahap. Pendidikan seperti ini diibaratkan seperti orang tua yang mendidik dan merawat anak-anaknya.
         Dalam pandangan Ibnu Qayyim bahwa tujuan pendidikan Islam yang utama adalah menjaga (kesucian) fitrah manusia dan melindunginya agar tidak jatuh ke dalam penyimpangan serta mewujudkan dalm dirinya ubudiyah (penghambaan) kepada Allaah Ta’ala. Yang demikian itu dikarenakan bahwa Allaah Ta’ala tidak menciptakan hambaNya kecuali untuk beribadah kepadaNya. Allaah Ta’ala berfirman,”Dan Saya tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.”(QS. Adz Dzariat: 56).
          Demikianlah beberapa tujuan pendidikan menurut pandangan Ibnu Qayyim Rahimullaah yang secara umum dapat kita simpulkan dan kita klasifikasikan menjadi beberapa kelompok, sebagai berikut ini: Pertama, Ahdaf Fismiyah (tujuan yang berkaitan dengan badan). Maksudnya diadakan pendidikan adalah untuk menjaga kesehatan badan anak didik, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Ibnu Qayyim kepada orang tua,”Hendaklah bayi yang baru dilahirkan itu disusukan kepada orang lain, karena air susu ibu di hari pertama melahirkan sampai hari ketiga masih bercampur dan kurang bersih serta masih terlalu kasar bagi sang bayi yang hal ini akan membahayakan sang bayi.” Kedua, Ahdaf Akhlakiyah (tujuan yang berkaitan dengan pembinaan akhlak). 
         Menurut Ibn Qayyim, kebahagiaan akan bisa diraih dengan terhiasinya diri dengan akhlak mulia dan terjauhkannya dari akhlak buruk. Ketiga, Ahdaf Fikriyah (tujuan yang berkaitan dengan pembinaan akal). Pendidikan yang baik ialah yang bertujuan untuk membina dan menjaga anak dan pemikiran anak didiknya. Ibnu Qayyim menyebutkan masalah ini dalam sebuah pernyataan berikut ini,”Yang perlu diperhatikan oleh para murobbi adalah agar mereka sama sekali tidak memberi kesempatan kepada anak didiknya untuk berinteraksi dengan sesuatu yang membahayakan dan merusak akalnya, seperti  minum minuman yang memabukkan atau narkoba, dan hendaknya anak didik dijauhkan dari pergaulan dengan orang-orang yang dikhawatirkan akan merusak jiwanya, dan dijauhkan dari melakukan pembicaraan dan memegang sesuatu yang akan merusak jiwanya, sebab semua itu akan menjatuhkannya ke lembah kehancuran. Keempat, Ahdaf Maslakiyah (tujuan yang berkaitan dengan skill). Dalam pandangan Ibnu Qayyim, pendidikan harus memilki tujuan mengnyingkap bakat dan keahlian(skill) yang tersimpan dalam diri seorang anak. Kemudian setelah diketahui bakat anak didiknya, maka segera diadakan pembinaan dan pengarahan kepada bidang-bidang yang sesuai dan baik yang akan mewujudkan kemaslahatan diri dan umat manusia secara keseluruhan.
          Adapun sasaran pendidikan atau yang lebih tepat dikatakan sisi-sisi yang hendak digarap oleh pendidikan menurut murobbi (guru) yang agung yaitu pertama, pendidikan imaniyah. Pendidikan imaniyah ialah kegiatan dan pekerjaan yang dilakukan oleh murobbi terhadap anak didiknya dalam menjaga iman mereka, meningkatkan kualitas dan menyempurnakannya. Hal ini berdasarkan pernyataan Ibnu Qayyim berikut ini,”Hati dan badan manusia sangat butuh kepada pendidikan agar keduanya mampu berkembang dan bertambah hingga meraih kesempurnaan dan kebaikan. Jadi, pendidikan imaniyah ialah usaha untuk menjadikan anak didik sebagai seorang yang patuh mengerjakan seluruh perintah Allaah dan mengikuti Rasulullaah sollallaahu ‘alayhi wasallam. 
     Berangkat dari pengertian pendidikan imaniyah di atas, maka kita dapat menentukan ghayah(tujuan) dari pendidikan imaniyah, yaitu sebagi berikut (a) Menghambakan manusia hanya kepada Allaah Ta’ala, karena Allaah tidak menciptakan manusia kecuali untuk beribadah kepadaNya. (b) Mewujudkan pribadi-pribadi shalih yang hanya beriman kepada Allaah Ta’ala dan memilki seperangkat ilmu yang bermanfaat, kemudian ilmu tersebut dibuktikan dengan amal shalih. (c) Mengakui bahwa ubudiyah yaang dilakukan dengan ketundukan dan rendah diri yang sempurna dengan kecintaan yang sempurna pula adalah salah satu tuntutan uluhiyah Allaah Ta’ala. (d) Menjaga dan melindungi lisan, anggota badan dan detak hati dari setiap sesuatu yang mendatangkan kemarahan Allaah Ta’ala. (e) Menjadikan seluruh gerak dan aktivitas seseorang selaras dengan ridha Allaah. Kedua, pendidikan ruhiyyah. Ibnu Qayyim memilki perhatian yang besar pada pendidikan ruhiyyah. Hal ini terbukti dari beberapa kitab karangannya ada yang berjudul “Ar Ruh” yang khusus membahas seluk beluk ruh.

Ibnu Khaldun

        Ibnu khaldun salah satu sosok yang dikenal dengan doktrin sufi, tapi di sisi pembahasan masalah sejarah dan sosial, ia berbeda pandangan dengan para sufi, dan hal ini membuktikan bahwa ibnu kholdun mempunyai sifat yang rasional dan obyektif. Sebagai filsof muslim, pemikiran ibnu khaldun sangatlah rasional dan banyak berpegang pada logika. Hal ini sangat dimungkinkan sebab semasa mudanya, ibnu kholdun pernah belajar filsafat dengan mendalam.  Dalam bukunya, ibnu kholdun mengatakan, “barangsiapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terdidik oleh zaman, maksudnya barangsiapa tidak memperoleh tatakrama yang dibutuhkan sehubungan pergaulan bersama melalui orangtua mereka yang mencakup guru-guru dan para sesepuh, dan tidak memplajari hal itu dari mereka, maka ia akan mempelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan mengajarkannya.”
        Pendidikan menurut ibnu kholdun memiliki pengertian yang cukup luas. Pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar yang dibatasi oleh ruang dan waktu, tetapi pendidikan adalah suatu proses, di mana manusia secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman. Dalam kitabnya, Muqaddimah, ibnu kholdun membagi ilmu menjadi dua macam, pertama, ilmu-ilmu tradisional yang bersumber al Qur’an dan hadits (ilmu naqliyah), peran akal hanyalah menghubungkan cabang permasalahan dengan cabang utama. Kedua, ilmu aqliyah (bersumber pada akal). Ilmu ini dimiliki oleh semua anggota masyarakat di dunia. Dalam reformasi pendidikan, ibnu khaldun berusaha mengembangkan metode pendidikan islam yang konservatif menuju pragmatis.  
Menurut kholdun, ada 3 tujuan pendidikan islam yang hendak dicapai, yakni :
  1. Pengembangan kemahiran dalam bidang tertentu
  2. Penguasaan keterampilan profesional sesuai dengan tuntutan zaman (link and match).
  3. Pembinaan pemikiran yang baik, kemampuan berpikir merupakan garis pembeda antara manusia dan binatang. 

Comments

Popular posts from this blog

Biografi Jasser Auda

Biografi Jasser Auda Jasser Auda adalah Associate Professor di Fakultas Studi Islam Qatar (QFTS) dengan fokus kajian Kebijakan Publik dalam Program Studi Islam. Dia adalah anggota pendiri Persatuan Ulama Muslim Internasional, yang berbasis di Dublin; anggota Dewan Akademik Institut Internasional Pemikiran Islam di London, Inggris; anggota Institut Internasional Advanced Sistem Research (IIAS), Kanada; anggota pengawas Global Pusat Studi Peradaban (GCSC), Inggris; anggota Dewan Eksekutif Asosiasi Ilmuan Muslim Sosial (AMSS), Inggris; anggota Forum Perlawanan Islamofobia dan Racism (FAIR), Inggris dan konsultan untuk Islamonline.net. Ia memperoleh gelar Ph.D dari university of Wales, Inggris, pada konsentrasi Filsafat Hukum Islam tahun 2008. Gelar Ph.D yang kedua diperoleh dari Universitas Waterloo, Kanada, dalam kajian Analisis Sistem tahun 2006. Master Fikih diperoleh dari Universitas Islam Amerika, Michigan, pada fokus kajian Tujuan Hukum Islam (Maqashid al-Syari’ah) tahun 2004. G...

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN EKONOMI BERBASIS SINEMATOGRAFI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR

JURNAL PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN EKONOMI BERBASIS SINEMATOGRAFI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR THE DEVELOPMENT OF ECONOMIC LEARNING MEDIA CINEMATOGRAPHY BASED TO INCREASE THE LEARNING MOTIVATION Oleh : Amalia Rahmi Hanum, S.Pd MT s Assalafiyyah Mlangi Cp; 085749226537 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pengembangan media pembelajaran ekonomi berbasis sinematografi, mendapatkan media pembelajaran ekonomi berbasis sinematografi yang layak digunakan sebagai media pembelajaran, dan peran media pembelajaran ekonomi berbasis sinematografi dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan. Penelitian dilaksanakan di MAN Yogyakarta III. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan prosedur pengembangan media pembelajaran ekonomi melalui antara lain tahap pra produksi, produksi,...

Parameter kebenran Al-Ghozali

Parameter kebenran ilmu apa paremeter kebenran ilmu itu? Parameter kebenaran ilmu secara umum adalah logika peripatetik, yang disebutnya Mi'yar al- Ilm dan al-Qistas al-Mustaqim, yang berupa burhan haqiqi, baik unsur premis-premisnya (daruriyah yang lima) maupun unsur bentuknya yang lima (al-mawazin al-kamsah). ia mengatakan: baca juga: https://kopiirengadrees.blogspot.com/2019/02/aksiologi-pendidikan-islam.html Artinya" Aku berkata, "jauh sekali. Aku tidak mengklaim bahwa aku menimbang dengannya (logika peripatetik) hanya pengetahuan-pengetahuan keagamaan saja, tapi aku menimbang dengannya ilmu -ilmu matematika, geometri, fisika, fiqih, kalam, dan semua ilmu esensial (natural) dan bukan kultural, dan aku membedakan yang benar dengan yang salahnya dengan neraca-neraca ini. Betapa tidak, sebab dialah " timbangan yang lurus' dan neraca yang merupakan pendamping Al-Kitab dan Al-Qur'an. Artinya, parameter kebenaran ilmu mengenai objek-objek sensual ada...

Hasan Al-Banan

Hasan Al-Banan Biografi Syekh Hasan Al –Banan dilahirkan pada Tahun 1906, di al-Mahmudiyah salah satu desa di wilayah al-buhairah Mesir, di besarkan dalam keluarga Islam yang taat. Setelah kelulusan beliau mulai mengajar di Isma’iliyah. Di sana dia menjadi koresponden majalah pemuda Muslim Kairo, Al-Fattah, dan menjalin hubungan dengan kelompok yang dipimpin Rasyid Ridha, Maktabah salafiyah, yang menerbitkan jurnal ilmiah Al-Mannar. Dasar-dasar Pendikan Islam Sistem pendidikan Islam yang diterapkan Hasan AL-banna di bangun dengan landasan agama Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Tafsirnya, tertutama menggunakan tafsir salaf seperti tafsir Ibnu Katsir. Sumber yang kedua adalah AL-Hadist dengan keautentikan dan syarahnya berpegang pada imam-imam hadist yang terpercaya.   Baca juga: https://kopiirengadrees.blogspot.com/2019/01/pemikiran-pendidikan-islam-gagasan_24.html Tujuan Pendidikan Islam Hasan AL-Banna menetapkan tujuan organisasinya yaitu Ikhwanul...