Muhammad Iqbal
Biografi Iqbal dilahirkan di punjab pakistan beliau dari kasta keluarga brahmana ia sejak kecil sudah belajar islam dari keluarganya, orang tuanya menanamkan Islam dalam dirinya sangat kuat. Sejak pertumbuhannya ia belajar di maktab(surau) dengan mendalami al-qur’an yang kelak sebagai rujukan pemikirannya. Kemudian juga belajar pada gurunya mir Hasan yang begitu berpengaruh dalam kehidupannya. Kemudian Iqbal sekolah di Scotish Mis Mir hasan seorang guru yang berpengaruh dalam kepribadiannya serta membimbing Ilmu ke Agamaan kepadanya. Kemudian beliau melanjutkan study ke lahore dan masuk Goverment College. Di sini kepandaian beliau semakin terkenal dan perkembangan sastra dan keilmuanya semakin luas. Terlebih ketika beliau bertemu dengan Sir Thomas Arnold. Kemudian ia melanjutkan ke Universitas Cambridge. Ia belajar dibawah bimbingan Dr. Mc Taggart dan mendapat gelar dibidang filsafat moral. Kemudian pergi ke Jerman untuk Melanjutkan Study di Universitas Munic. Di sini ia mengajukan desertasinya yang berjudul The Development of Metafysics in persia, ini ia persembahkan untuk gurunya Thomas Arnold yang saat itu sebagai guru besar bahasa arab di Universitas London. Kemudian iqbal kembali kelondon mempelajari hukumm dan akhirnya lulus keadvokatan.
Semangat iqbal dalam menimba Ilmu di Eropa, tak bosan-bosanya ia melakukan perbincangan-perbincangan dan discusi-discusi tentang ilmu sastra dan filsafat. Terlihat jelas saat itu beliau menggandrungi ajaran panteisme Ibn Al-arabi. Tiga tahun selama di Eropa beliau meraih tiga gelar B.A. (Bachelor of Arts) di bidang seni, advokat, dan doktor bidang filsafat.
Perjalanan karier
Dalam kariernya dapat dibagi dua garis besar yaitu dalam bidang penyairan dan bidang Praktisi. Dalam bidang Praktisis ia bergerak dalam bidang pendidikan, advokasi dan politik. Kepenyairan beliau geluti sejak masih ia duduk di bangku Scotish Misson. Dalam bidang pendidikan beliau pernah menduduki guru besar bahasa Arab di London University untuk menggantikan Thomas Arnold. Ia juga memimpin Goverment College dan mengajar filsafat, sastra Arab dan Bahasa Inggris. Tapi hanya ia tekuni selama satu setengah tahun dengan alasan ia tidak bisa berdedikasi dengan Inggris yang pada saat itu menduduki India. Sekalipun begitu ia juga masih mengajar disekolah-sekolah Swasta dengan cara itu ia merasa bebas.
Latar Belakang Pemikirannya
Pemikirang Iqbal banyak dipengaruhi oleh para filsuf Barat, sehingga beliau dapat memadukan Pemikiran Timur dan Barat dengan sangat memukau tanpa merendahkan kedua corak pemikiran tersebut.
Sebagai Praktisi pendidikan beliau banyak dipengaruhi filsuf Barat barat seperti Thomas Aquinas, Bergson, Nietche, Hegel, Whitehead, Berkeley dan masih banyak lagi filsof-filsof yang mempengaruhi pemikiran filsafsatnya. Latar belakang Iqbal mampu mencetuskan pemikiran filsafatnya yang menjdai isu sentral filsafatnya adalah manusia, dimana ego menjadi landasan pemikiran Iqbal, dan tentu pemikiran mengenai ego ini sendiri banyak dipengaruhi oleh filsuf Barat.
Pemikiran dalam bidang pembaharuan
Iqbal seorang pembaru yang punya kekhasan. Ia seorang penyair yang berbakat, juga seorang filsof yang kreatif. Ia pun diakui dalam sejarah kalam pemikiran-pemikiranya yang cemerlang. Terlebih dalam pemikirannya mengenai kemundurang dan kemajuan umat Islam yang mempunyai pengaruh pada pergerakan pembaharuan dalam Islam. Lingkup pengamatannya terjadi pada Islam di India dan Pakistan khususnya, dan umumnya umat islam diseluruh dunia. Ia menganalisis sebab-sebab kemunduran yang melanda umat Islam kemudian hasil pemikirannya ia tuangkan dalam karya-karya berupa puisi dan prosa.
Dalam analisis Iqbal berpendapat bahwa kemunduran umat Islam selama lima ratus tahun terakhir, disebabkan tiga hal yaitu;
Pertama, Kebekuan dalam pemikiran. Hal ini bisa dilihat dari hukum islam yang statis. Dimana kaum konservatif Islam memandang rasionalisme yang dibawa mu’tazilah akan membawa disintegrasi. Hal ini berbahaya bagi kesetabilan kesatuan politik Islam.karena syariat dianggap ampuh membuat umat islam tunduk dan diam.
Kedua, Pengaruh zuhud dalam ajaran tasawuf. Mereka mementingkan perhatian yang terpusat kepada Tuhan dan apa yang ada di balik alam materi. Mereka akhirnya kurang memperhatikan soal kemasyarakatan dalam Islam.
Ketiga, Kehancuran kota Bagdad. Sebagai pusat intelektual dan pusat kemajuan pemikiran umat Islam pada pertengahan abad ke tiga belas. Karena takut terjadi disintegrasi yang lebih jauh dan sebagai usaha serta mempertahankan keseragaman hidup sosial seluruh umat Islam, maka kaum konservatif menolak segala pembaharuan dalam bidang syariat dan berpegang teguh pada hukum-hukum yang telah ditentukan dan ditetapkan ulama terdahulu.dengan kata lain mereka menutup pintu ijtihad umat Islam.
Iqbal menekankan kedinamisan uamt Islam dengan amat sangat, dengan pandangan beliau yang menonjolkan kedinamisan sehingga ia mempunyai kedudukan dan peran penting dalam pembaharuan Islam di India. Beliau melihat intisari kehidupan adalah gerak dan hukum hidup adalah menciptakan, maka ia menyeru kepada umat Islam untuk bangun dan ciptkan dunia baru.
Kritik tentang barat dan Islam tradisonal
Melihat kenyataan kaum minoritas Islam di India yang begitu menyedihkan, Muhammad Iqbal menawarkan perlunya diadakannya Integrasi moral dan politik kaum muslim India dalam kesatuan gagasan dan wilayah. Tawaran beliau inilah yang pada gilirannya melahirkan semangat nasionalisme yang didasarkan atas kesamaan negara Iqbal melalui gagasan ini sebenarnya menghendaki terbentuknya suatu komunitas tersendiri dalam bentuk negara. Komunitas Muslim dalam pandangan beliau merupakan suatu masyarakat yang berdasarkan keyakinan agama yang sama dengan realitas tumggal yang tidak mungkin dapat dipisahkan. Ide dan gagasan nasionalisme berdasarkan semangat keagamaan ini pada gilirannya dapat diwujudkan oleh Muhammad Ali Jinnah pada tahun 1947 dengan berdirinya negara Islam Pakistan.
Iqbal memandang sudah saatnya kaum Muslim melakukan rekontruksi terhadap segala pemikiran yang berkembang di dunia Islam. Hal yang dilakukan iqbal yaitu menentang dualisme fisafat klasik yang abstrak., yang mempertahankan pikiran dan materi dalam wadah yang ketat. Menurutnya cita-cita yang bersumber dari idealisme dan kenyataan yang bersumber dari realisme bukanlah dua kekuatan yang saling bertentangan. Keduannya kiranya dapat didamaikan. Paradigma pemikiran yang digunakan Iqbal untuk menelorkan gagasan rekontruksinya adalah dengan menggunakan metodelogi berfikir yang bersifat sintesa. Ia berhasil memadukan tradisi Intelektual barat dengan tradisi intelektual Timurdalam suatu paradigma berfikir. Sejak berabad-abad kaum muslim telah terpukau oleh pemahaman keagamaan yang sempit. Seakan-akan mengkaji alam semesta dan sejarah bukan merupakan perbuatan agama. Dengan keputusan seperti ini tidak mengherankan apabila kaum teolog abad klasik terlalu sibuk “mengurus Tuhanya, sehingga manusia dibiarkan terlantar dibumi. Dibawah bayang-bayang filsafat Hellenisme-Yunani.
Pemikiran tentang pendidikan islam
Sekembalinya dari eropa, muhammad Iqbal sangat lihai dan profesional tentang pemikiran-pemikiran Barat. Bait-bait puisinya mencerminkan sebuah opini yang secara intens dijadikan kerangka paradigmatik bagi kontruksi pembaharuan pemikiran Muhammad Iqbal. Dalam perspektif Iqbal Pendidikan tidak semestinya mengenal atau mentolerir klasifikasi pendidikan Timur dan Barat atau Agama dan Sekuler dan sebagainya, karena justru akan menjauhkan dari tujuan fitrah sebuah pendidikan, dan bahkan akan menanamkan bibit sektarianisme-promordial “penyakit otak dan hati”. Dualisme inilah menurut Iqbal yang meracuni hampir seluruh umat manusia khususnya umat Islam, sehingga mereka antipati terhadap pendidikan atau ilmu pengetahuan yang mereka anggap bersumber dari Barat seperti filsafat ataupun yang lainnya. Sifat apologia masyarakat Islam ini telah mengantarkannya pada keterjebakan yang amat parah, bahkan menjadikan umat yamg terbelakang, ortodok serta ketinggalan zaman terutama setelah agresi Renaissance.
Oleh karena itu Iqbal menyeru kepada seluruh umat manusia (khususnya umat Islam) untuk bersama-sama bangkit mengatasi cara-cara tradisonal serta ide-ide dan teknologi Barat, untuk menemukan daya kreativitas, semangat keotentikan diri mereka sendiri atau dengan kata lain, standar “kebenaran individu”. Artinya bahwa kualitas diri lebih memungkinkan bagi tercerahkannya peradaban manusia secara makro, sehingga pendidikan harus diarahkan pada terciptanya proses penemuan “kantong ilmiah” setiap manusia, karena manusia secara filosofis adalah pencipta bagi tindakannya sendiri. Dengan pendidikan merupakan sesuatu yang bertanggung jawab bagi tertatanya kehidupan atau harmoni sosialnya.
Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan sebagai komponen yang pokok dan aktivitas yang sangat menentukan bagi tercapainya tujuan yang telah diterapkan. Oleh karena itu adanya tujua pendidikan merupakan syarat mutlak bagi tersusunya pengertian pendidikan secara sistematis yang memungkinkan adanya proses pendidikan yang berasas dan fungsional.
Tujuan pendidikan menurut Iqbal ialah membina totalitas individu yang mantap sehingga dapat mengaktualisasikan dirinya dalam gairah hidup yang penuh kreativitas ke ilahiyahan. Manusia merupakan tokoh sentral didalam Al-Qur’an. Oleh karena itu pengetahuan kita tentang asal kejadian manusia menjadi sangat penting artinya dalam merumuskan tujuan pendidikan bagi manusia.
Yang pertama mnusia adalah makhluk (ciptaan) Tuhan (Q.S. Al- Rahman; 3 ) yang kedua manusia adalah makhluk yang berkembang dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan. Ketiga Manusia adalah makhluk yang utuh yang terdiri dari jasmani, rohani, dan akal.
Tujuan pendidikan harus bertujuan pada pertumbuhan yang seimbang dari seluruh kepribadian manusia melaluilatihan atas jiwa, akal, diri rasional, perasaan, dan indra-indra jasmaniahnya. Oleh karena itu pendidikan harus mendukung pertumbuhan manusia dalam semua aspeknya, spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah, linguistik, baik secara individu maupun kolektif dan mendorong semua aspek ini menuju kebaikan dan pencapaian kesempurnaan. Tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah merealisasikan kepasrahan penuh pada Allah pada tingkat individual, komunitas dan umat.
Jadi untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut tentunya dibutuhkan pendidikan yang baik, yakni pendidikan manusia seutuhnya yang tidak saja memperhatikan aspek rohani tetapi juga jasmani dan akal. Tidak hanya theosentris tetapi juga antroposentris dan scientific. Dengan kata lain adalah pendidikan yang meletakkan landasan keseimbangan dan keserasian dari seluruh aspek kehidupan manusia. Dengan memandang bahwa tidak ada dikotomi antar ilmu agama dengan ilmu umum.
Comments
Post a Comment