Skip to main content

Ibnu Sina dan Ibnu Taimiyyah,

Ibnu Sina
    Abu Muhammad Iqbal di dalam buku ini menggambarkan sosok ibnu sina sebagai seorang yang menguasai  berbagai macam ilmu pengetahuan. Penulis buku menyatakan bahwa Ibnu Sinna dikenal di Eropa sebagai Avicenna yang disebut sebagai “the greatest Muslim thinker and the last of the Muslim philoshopher inthe East”. Yang paling populer tentu sebutan “Bapak Pengobatan Modern”. Tentu perlu telaah yang lebih mendalam sehingga sesorang dimasukkan sebagai tokoh pemikir pendidikan Islam. Berikut adalah gagasan pokok ibnu sina tentang pendidikan Islam :

 Ibnu Sina

A. Tujuan pendidikan Islam. 
     Menurut Ibnu Sina tujuan pendidikan Islam adalah “mengembangkan  potensi anak didik secara optimal sehingga memiliki akal yang sempurna, akhlak yang mulia, sehat jasmani dan rohani serta memiliki keterampilan yang sesuai dengan bakat dan minatnya sehingga memperoleh kebahagiaan (sa’adah) dalam hidupnya.” Kemudian abu Muhammad Iqbal menyatakan bahwa tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina adalah hirarkis struktural sekaligus teoritis-praktis. 
B.  Kurikulum
      Ibnu Sina membagi kurikulum berdasarkan perkembangan usia anak didik.
C.  Metode pembelajaran
      Metode pembelajaran yang ditawarkan adalah talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan,                diskusi, magang, dan penugasan ditambah metode dera dan hukuman.
D. Konsep guru
Seorang guru yang ideal menurut Ibnu Sina adalah memiliki kompetensi  yang baik, berkepribadian mulia, dan kharismatik sehingga mampu menjadi idola bagi anak-anak didiknya. Kritik penting terhadap buku ini adalah bahwa ulama-ulama besar abad ini menyatakan bahwa Ibnu Sina bukanlah seorang pemikir Islam. Para ulama tersebut menyatakan bahwa Ibnu Sina di luar islam karena aqidahnya terjangkiti salah satu firqoh sesat yaitu syiah. 

2. Ibnu Taimiyyah
    Pendidikan berbasis Al Qur’an dan Hadits
    Prinsip pendidikan menurut Ibnu Taimiyyah adalah kembali kepada prinsip dasar ajaran Islam.  Di antara gagasan Ibnu Taimiyyah tentang pendidikan yang mencerminkan usahanya untuk menemukan kembali fundamen pendidikan Islam adalah pemikirannya untuk mengembalikan proses pendidikan pada prinsipnya yang paling mendasar, di mana belajar merupakan suatu perintah ibadah, mengajarkan ilmu kepada orang lain merupakan shadaqah, melakukan kajian keilmuan merupakan bagian dari jihad dan usaha mengagungkan asma Alloh ta’ala. 
Ibnu Taimiyyah juga berusaha menyentuh kembali-kembali aspek-aspek mendasar lain dari pendidikan. Pendidikan Islam diletakkan kembali kepada pengertian yang umum yang berkembang saat ini. Beliau juga menyerukan perlunya keluar dari konsep pendidikan yang terbelenggu oleh batasan-batasan mahdzab. 
Prinsip pemikiran Ibn Taimiyah yang menolak semua otoritas kecuali Al Qur’an dan Sunnah ini membuat gagasan-gagasan Ibn Taimiyah memiliki kelebihan tersendiri.Dalam kerja intelektual-menurut Ibn Taimiyah-yang diperlukan adalah kesepakatan bulat antara akal dan wahyu. Jadi dalam hal ini menolak adanya bahasa figurasi (majaziy) untuk merasionalkan wahyu. Hal ini terkait kedudukan Sunnah sebagai pemberi penjelasan terbaik bagi kandungan Al Qur’an. Dalam hal ini posisi akal Ibn Taimiyah memang menempatkannya pada posisi di bawah teks-teks wahyu sebagai sumber asasi ajaran Islam.

Namun demikian bukan berarti Ibn Taimiyah menafikan fungsi akal sama sekali. Dalam hal ini tampak bahwa beliau ingin menegaskan posisi sebenarnya akal dengan beberapa keterbatasannya terhadap wahyu. Ibn Taimiyah menghargai kedudukan akal, namun bagaimanapun akal tetap berada di bawah otoritas wahyu. Kerja akal dapat diterima apabila akal tersebut beroperasi di bawah bimbingan wahyu.
Namun demikian, dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam banyak bergeser dari dasar filosofisnya. Semakin beragamnya kultur yang bersentuhan dengan Islam- sebagai konsekuensi logis dari semakin luasnya wilayah Islam- pada gilirannya memberikan beberapa corak pemikiran baru dalam pendidikan Islam. Pergeseran orientasi pendidikan ini menjadi semakin transparan ketika kemajemukan unsur yang ada pada masyarakat tersebut diwarnai dengan keragaman fanatisme yang memicu perpecahan dalam berbagai bidang kehidupan. Beragam kepentingan dan prinsip-prinsip yang dipegangi oleh kelompok masyarakat tertentu tidak jarang mendorong munculnya usaha-usaha untuk mengarahkan pendidikan pada suatu paham dan kepentingan tertentu.
Kondisi inilah yang menjadi gambaran umum pendidikan Islam pada masa hidup Ibn Taimiyah. Beragamnya pandangan hidup yang diposisikan sebagai standar nilai-nilai kebenaran dalam masyarakat akhirnya memicu munculnya beragam sistem pendidikan yang berkembang dalam dunia Islam. Maraknya institusi-institusi pendidikan dalam dunia Islam sendiri justru terjadi setelah era disintegrasi ini. Seperti madrasah yang tersebar di seluruh penjuru dunia setelah diprakasai oleh penguasa wilayah bagian, yakni dinasti Ayyubiyah yang dilanjutkan oleh dinasti Ayyubiyah yang dilanjutkan oleh Dinasti Mamalik dan mencapai puncaknya pada masa Turki Utsmani.
Kritik terhadap pendidikan fiqh
Ibn Taimiyah menunjukkan betapa pendidikan yang diberikan di kalangan ulama madzhab telah banyak berseberangan dengan cita-cita para pendiri madzhab itu sendiri. Fanatisme madzhab mendorong mereka menggunakan cara-cara yang tidak semestinya untuk membela kelompoknya. Ibn Taimiyah mengungkapkan kembali prinsip para ulama pendiri madzhab, dimana sebenarnya tidak pernah satupun dan mereka mengajak pada firqat tertentu, bahkan tidak pernah menyeru umat untuk berpegang pada pendapat mereka.
Kritik terhadap pendidikan filsafat
Begitu juga dengan Ibn Taimiyah, kritik-kritiknya terhadap tesis para filosuf terlihat lebih tertuju pada implikasi tesis-tesis tersebut terhadap syariat. Beliau banyak menyoroti kecenderungan  para filosuf yang berlebihan ketertarikannya pada ketinggian metafisis sehingga mengesampingkan asumsi-asumsi syari’at dalam kajiannya. Kritik Ibn Taimiyah tersebut tidak hanya terbatas pada metalisika, namun lebih jauh beliau mengkritik logika rasional yang dipandang sebagai bagian penting dan unsur hellenisme yang paling banyak merusak sistem pemikiran Islam.
Melalui pemahaman yang mendalam tentang dasar-dasar pemikiran para filosuf Ibn Taimiyah menunjukkan kelemahan tesis-tesis yang dikemukakan para filosuf tersebut. Meskipun demikian kacamata syar’i yang digunakan Ibn Taimiyah dalam membangun prinsip-prinsip pemikirannya cenderung memperlihatkan perbedaan atau penyimpangan pemikiran filsafat dan manhaj Qur’ani. Sehingga yang tampak dalam kritik-kritik tersebut adalah kecenderungan mempertentangkan tesis-tesis filosuf tersebut dengan otoritas nash-nash yang qath’i. Dalam hal ke-qadim-an alam-misalnya- Ibn Taimiyah sangat keras menolaknya dengan kembali pada dasar syar’i bahwa yang qadim tidak mungkin menjadi ma’lul. Begitu pula halnya teori kenabian yang dikemukakan oleh para filosuf yang dipandang dapat membawa pada kesimpulan spekulatif yang menyesatkan umat. Seperti anggapan bahwa para filosuf memiliki daya nalar yang lebih tinggi dari para Nabi, dimana pandangan seperti  akan sangat berpengaruh pada pandangan tentang persoalan agama yang diterangkan oleh para Nabi.
Dari sinilah dapat dipahami sikap Ibn Taimiyah terhadap pendidikan filsafat. Kecenderungan untuk mengesampingkan asumsi-asumsi syariat sebagai obyek kajian pendidikan di kalangan filosuf dipandang sangat berbahaya, karena hal itu berarti menjauhkan subyek didik dari sumber pendidikan yang utama, yaitu wahyu. Kesesatan yang menimpa para filosuf tersebut akan diwarisi oleh generasi-generasi berikutnya apabila pendidikan filsafat-dengan bentuk penyimpangannya-tersebut tetap terus dikembangkan.
Garis besar pemikiran Ibn Taimiyah tentang pendidikan
Pendidikan Islam menurut Ibn Taimiyyah ditegakkan di atas pondasi Quran dan hadits yang sekaligus menjadi pemberi arah bagi tujuan yang akan dicapai dalam pendidikan Islam itu sendiri.  Berkaitan dengan posisinya terhadap fitrah manusia, pendidikan tidak lain bertujuan untuk mendidik pribadi muslim kepada fitrahnya. Oleh karena Ibn Taimiyyah menekankan pentingnya orientasi pendidikan pada pemahaman subyek didik atas risalah yang dibawa Rosul. Desain tujuan pendidikan Islam yang digagas oleh Ibn Taimiyyah tersebut lebih jelas terlihat aplikasinya dalam ajaran salaf yang digaungkannya. Pendidikan dijadikan sebagai agen bagi pengembangan prinsip-prinsip salaf yang bertujuan mengajak umat untuk kembali pada dasar ajaran Islam – Al Qur’an dan hadits- dan membersihkan segala bentuk penyimpangan dalam masyarakat. Melalui jalur pendidikan diharapkan ditemukan kembali bangunan kehidupan  masyarakat berdasarkan sendi-sendi ajaran Islam sebagaimana telah dipraktekkan oleh salaf al sholihin. Untuk itu Ibn Taimiyah menekankan pentingnya menengok kembali bentuk pendidikan di kalangan salaf al sholihin sebagaimana prototipe pendidikan yang lebih dekat dengan pendidikan Rosul sholallohu ‘alaihi wasallam. 

Comments

Popular posts from this blog

Enam Pertanyaan Imam Al Ghozali

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam   Al Ghozali mengajukan 6 pertanyaan. Pertama,"Apa yang paling DEKAT dengan diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman,dan kerabatnya.   Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. tetapi yang paling   dekat   dengan kita adalah   "MATI". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti   akan mati. (Ali Imran 185)   Pertanyaan kedua "Apa yang paling JAUH dari diri kita di dunia ini?". Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan   bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang   mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah MASA LALU.   Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari   yang   akan datang dengan perbuatan yang ses...

Pengertian Empirisme

Pengertian Empirisme: Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme di ambil dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatuyang sesuai dengan pengalaman manusia. Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu: baca juga: https://kopiirengadrees.blogspot.com/2019/02/pengertian-filsafat-pendidiakan.html  Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.  Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.  Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantu...

Pentingnya Implementasi Maqashid Al-Shariah di setiap level Ijtihad

B.2. Pentingnya Implementasi Maqashid Al-Shariah di setiap level Ijtihad Merujuk pada pendapat Ibnu Ashur Dr. Ahcene Lahsasna menyimpulkan bahwa Maqashid Al-Shariah memainkan peran yang siginifikan diantaranya: ·          Maqashid Al-Shariah menentukan level mashlahah (kebaikan) dan mafsadah (keburukan) yang ada di setiap kasus-kasus tertent yang memungkinkan ahli fiqh menentukan suatu hukum baca juga: https://kopiirengadrees.blogspot.com/2019/02/maqashid-al-shariah-in-islamic-finance.html ·          mengindentifikasi tujuan dibalik pengundangan suatu hukum, dan membantu ahli fiqh untuk memproduksi hukum ·          Maqashid Al-Shariah meminimalisir kesalahan dalm ber ijtihad sehingga hukum yang ditentukan akurat dan tepat sasaran [1] . B.3. Pentingnya Implementasi Maqashid Al-Shariah Dalam Mengembangkan Ekonomi Dan Keuangan Islam Sebagaimana dikem...

Implikasi Perkembangan Teori Pembelajaran

Implikasi Perkembangan Teori Pembelajaran Perkembangan teori belajar cukup pesat. Berikut ini adalah teori belajar dan aplikasinya dalam kegiatan pembelajaran. Pertama aliran tingkah laku (Behavioristik ), belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Perubahan perilaku dapat berujud sesuatu yang kongkret atau yang non kongkret, berlangsung secara mekanik memerlukan penguatan. Tokoh dalam aliran ini adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Aplikasi teori belajar behavioristik dalam pembelajaran, tergantung dari beberapa hal seperti tujuan pembelajaran, sifat meteri pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. baca juga:  https://kopiirengadrees.blogspot.com/2019/02/implikasi-prinsip-pembelajaran.html Kedua aliran kognitif , belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku, menekankan pada gagasan bahwa pada...

Maqashid Al-Shariah In Islamic Finance

KONSEP  MAQASHID AL-SYARIAH DALAM SISTEM KEUANGAN ISLAM MENURUT DR. AHCENE LAHSASNA (Review Buku  Maqashid Al-Shariah In Islamic Finance ) Dewasa ini keuangan yang berabasis syariah semakin berkembang untuk menjawab krisis global yang terjadi akibat ketidakmampuan sistem keuangan konvensional menanganinya. Terbukti dinamika bisnis keuangan Islam tetap berdiri kokoh ditengah terpaan krisis Global. Seiring dengan perkembangannya, sistem keuangan Islam masih belum menemukan formula yang lengkap untuk dijadikan patokan yang universal. Maka pengembangan senantiasa dilakukan perbaikan-perbaikan melalui “ijtihad” dan reinterpretasi Al-Qur’an Dan Al-Sunnah. Ulama muslim kontemporer menjadi “ frontman” merumuskan dan menumbuhkembangkan sistem keuangan Islam yang berbasis syariah sehingga muncul Istilah Maqashid Al-Syariah dan menjadi bidang ilmu tersendiri yang bisa dipelajari [1] . baca juga: https://kopiirengadrees.blogspot.com/2019/02/konstribusi-dalam-dunia-ke...

Imam Al Ghozali dan Ibnu Tufail

Imam Al Ghozali Al Ghozali berkata,”Makhluk paling mulia di bumi ialah manusia, sedangkan sebagian paling mulia dari substansinya adalah kalbunya. Guru adalah orang yang sibuk menyempurnakan, memuliakan, menyucikan, dan menuntunnya untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Atas dasar itu, mengajarkan ilmu tidak hanya mengejawantahkan peranan ibadah kepada Alloh, tetapi kekhalifahan bagi Alloh. Bahkan pengajaran ilmu merupakan bentuk kekhalifahan paling nyata dari kekhalifahan, sebab Alloh telah membukakan kalbu orang alim untuk menerima ilmu yang merupakan sifat khususNya yang paling khusus. Dengan demikian, orang lain ibarat bendaharawan bagi khazanah Alloh yang paling berharga. Selanjutnya ia diizinkan untuk menafkahkansebagian dari khazanah itu kepada setiap orang yang membutuhkannya. Maka perhatikanlah, adakah kedudukan yang lebih mulia dibanding kedudukan hamba yang menjadi perantara antara Tuhan dan makhluk untuk mendekatkan diri kepada-Nya sedekat mungkin serta membimbing mereka...