Skip to main content

Seyyed Hossein Nasr

Seyyed Hossein Nasr

Potret kehidupannya

Seyyed Hossein Nasr lahir pada tanggal 7 April 1933, di kota Teheran, Iran, negara tempat lahirnya para sufi, filosofi, ilmuan dan penyair muslim terkemuka.  Sebagian orang mungkin menggolongkan Nasr sebagai neo- modernt mengingat kepeduliannya kepada konformits Islam dengan dunia modern. Terlebih dari itu Nasr penuh semangat mengkritik tajam kaum modernis semacam Al-Afghani, Abduh, Ahmad Khan atau Amir Ali. Bagi Nasr tokoh-tokoh ini adalah pioner penyebaran sekulerisme dalam bentuk Rasionalisme dan berbagai kecendrungan apologetik lainya di dunia muslim.

Tanggung jawab dan hak manusia

Kata responsibility artinya “ tanggung Jawab” muncul dari kata response. Di dalam konteks Islam, orang dapat mengatakan bahwa semua bertanggung jawab muncul akibat dari jawaban (komunikasi ) awal mula sekali terhadap Tuhanya. 
Dengan diterimanya status hamba Tuhan (abd) dan khalifah di dunia ini oleh manusia. Maka manusia berkewajiban untuk menyembah dan melayaninya. Berbicara kewajiban manusia kepada Tuhan, Nasr seorang ilmuan dari Iran yang tinggal di Negeri orang (Amerika) memberikan penjelasan tentang tanggung jawab manusia sebagai berikut;
Pertama : “ act of worship and service and obidience to His Law ( Tindakan-tindakan Ibadah dan pelayanan serta kepatuhan kepada Hukumnya), kewajiban pertama adalah mengenal Allah dan kedua adalah beribadah kepadanya.
Kedua: “ responsibility our soul and mind  and then try to save our soul and to be good” ( Tanggung Jawab kepada Jiwa dan akal kita dan berusaha untuk menyelamatkan dan membuat jiwa ini menjadi lebih baik ).  Karena kehidupan manusia adalah sakral dan tidak tidak diciptakan oleh manusia, maka manusia bertanggung jawab untuk mengusahakan agar jiwa dan tubuh manusia terjaga kesehatanya dan tidak untuk tidak membahayakan diri manusia secara fisik maupun spiritual.

Gagasan tentang dunia pendidikan islam
Krisis dunia Islam konterporer telah mengarahkan perhatian banyak cendikiawan muslim kepada persoalan pendidikan dan memancing pemeriksaan ulang atas sistem pendidikan Islam yang telah terlupakan selama seratus tahun yang lalu di sebagian besar negeri-negeri Islam.
Pandangan-pandangan filsof-filsof muslim tentang pendidikan menyerupai cabang-cabang yang penting dari pohon tradisi intelektual Islam yang akar-akarnya tertanam dalam ajaran al-qur’an dan hadist.
Dalam konsep Islam, begitu kata Nasr, pendidikan Islam Mengimplikasikan bukan sekedar mengajarkan atau penyampaian (ta’lim), tetapi juga pelatihan seluruh diri siswa (tarbiyah). Menurut Nasr’ guru bukan sekedar seorang mualim “penyampai pengetahuan” tetapi juga seorang murobbi “pelatih jiwa dan kepribadian”. Pendidikan Islam menurut Nasr terciptanya Insan-insan  yang memiliki kualitas intelektual dan kualitas spritual. Antara pengembangan fakultas pikir dan dzikir dapat berjalan secara serasi dan seimbang.

Kurikulum
Kurikulum dipandang penting dalam proses pendidikan karena ia akan memberikan arahan dan patokan keahlian apa yang harus dipunyai oleh anak didik. Dalam persoalan ini Nasr’ mengklasifikasikan sains-sains dalam Islam. Pertama, saint keagamaan (sains Aqli) yang meliputi hukum Illahi (syariah), prinsip-prinsipnya (ushul), Jurispudensi (fiqh), tafsir, hadist, dan teologi. Kedua; sain-sains intelektual (sains Aqli) yang meliputi misalnya mate-matika, sains kealaman,filsafat,logika, dan semacamnya. 

Tujuan Pendidikan
Menyempurnakan dan mengaktualisasikan seluruh potensi yang di miliki anak didik untuk mencapai pengetahuan tertinggi tentang Tuhan yang merupakan tujuan hidup manusia. Untuk mempersiapkan manusia dalam mencapai kebahagian hidup didunia. Sedangkan tujuan ultimatnya adalah tercapainya kebahagiaan hidup yang permanen di alam baka (al-akhirah).

Comments