Skip to main content

Korelasi konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dengan realitas Pendidikan di Indonesia


Korelasi konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dengan realitas Pendidikan di Indonesia
Sayangnya paradigma berkebalikanlah yang sering kita dengar terucap dari para penguasa pendidikan kita saat ini.Semangat resentralisasi dan standarisasi pendidikan kental terasa. Alih-alih self-directed learning, justru forced learning yang menjadi penggerak proses pendidikan.
Anak-anak dianggap sebagai pegas yang harus sering ditarik-ulur agar lentur. Pesan agar kita tak permisif memanjakan anak disuarakan terus-menerus untuk melegitimasi Ujian Nasional sebagai “alat rekayasa sosial untuk memaksa anak belajar” serta “penjaga keutuhan bangsa”.
Alih-alih memberikan kepercayaan penuh pada guru dan memampukan mereka memegang kendali atas proses pembelajaran, justru pemerintah meluncurkan kurikulum nasional baru dengan promo, “Guru-guru tinggal melaksanakan saja.”
Workshop-workshop, sosialisasi-sosialisasi, penggantian Kurikulum ataupun konsep-konsep lainnya tidak akan berguna apabila tidak diimbangi dengan kebijakan-kebijakan yang memperhatikan kepentingan bersama baik itu siswa, wali siswa, lingkungan tempat tinggal siswa, pemda, guru-guru muda maupun guru-guru senior.
Sesungguhnya akan lebih bermanfaat bila Kemdikbud juga memaparkan paradigma mendasar serta cetak biru pendidikan nasional. Paling tidak seharusnya kita bisa mendengar mengapa para penguasa pendidikan kita memilih rute saat ini, yang berkebalikan dari yang dipilih oleh Finlandia dan juga Ki Hadjar Dewantara.
Setengah ironis saat kita diingatkan kembali tentang prinsip-prinsip pendidikan yang telah disuarakan oleh Ki Hadjar Dewantara sejak lama justru oleh para pendidik dari seberang dunia. Kegagalan dan kebebalan kita untuk sadar setelah diingatkan akan menjadi pelengkap keironisan.
Finlandia memulai reformasi pendidikannya di tahun 1970-an dengan memikirkan ulang paradigma mendasar tentang persekolahan, konsepsi pengetahuan serta konsepsi pembelajaran. Seharusnya kita bisa memulai dari titik yang sama. Bila tidak oleh pemerintah saat ini, maka kita patut berharap pada pemerintah berikutnya.

Comments

Popular posts from this blog

Tokoh-Tokoh Empirisme

Tokoh-Tokoh Empirisme   Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume. baca juga:  https://kopiirengadrees.blogspot.com/2019/02/pengertian-filsafat-pendidiakan.html a.John Locke (1632-1704)    Ia lahir tahun 1632 di Bristol Inggris dan wafat tahun 1704 di Oates Inggris. Ia juga ahli politik, ilmu alam, dan kedokteran. Pemikiran John termuat dalam tiga buku pentingnya yaitu essay concerning human understanding, terbit tahun 1600; letters on tolerantion terbit tahun 1689-1692; dan two treatises on government, terbit tahun 1690. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap aliran rasionalisme. Bila rasionalisme mengatakan bahwa kebenaran adalah rasio, maka menurut empiris, dasarnya ialah pengalaman manusia yang diperoleh melalui panca indera. Dengan ungkapan singkat Locke : Segala sesuatu berasal dari pengalaman inderawi, bukan budi (otak). ...