Yang Terhormat
Dewan Juri
Yang saya
hormati Guru Pendamping
Serta peserta
Lomba Yang berbahagia
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الذي كان بعباده خبيرا بصيرا, تبارك الذي جعل في السماء بروجا و جعل
فيها سراجا و قمرا منيرا. أشهد أن لا إلا الله و أشهد أن محمدا عبده ورسوله الذي
بعثه بالحق بشيرا و نذيرا, و داعيا إلي الحق بإذنه وسراجا منيرا. اللهم صل عليه و
علي اله وصحبه وسلم و تسليما كثيرا. ( أما بعد )
* 4Ó|Ós%ur y7/u wr& (#ÿrßç7÷ès? HwÎ) çn$Î) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7t x8yYÏã uy9Å6ø9$# !$yJèdßtnr& ÷rr& $yJèdxÏ. xsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& wur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJÌ2
Segala puja-puji syukur marilah kita sama-sama
kita panjatkan atas kehadirat allah swt atas limpahan nikmat,rahmat, inayah,
hidayah serta karunianya yang dilimpahkan kepada kita semua sekalian, terutama
nikmat iman dan islam, nikmat sehat wal afiat serta nikmat panjang umur
sehingga alhamdulilah kita bisa berkumpul ditempat yang berbahagia pada siang
hari ini dengan selamat tanpa halangan suatu apapun. Kita bisa berkumpul di
ruangan ini juga berkat kasih sayang orang tua kita, sehingga kita tumbuh
dewasa, mandiri dan akhirnya mampu berkumpul diruangan ini dengan sehat dan
penuh kasih sayang.
وعن
عبد الله عبن عمر – رضي الله عنهما – عن النبي صلي الله عليه و سلم قال" رضا
الله في رضا الواليدين, و سخط الله في سخط الوالدين " أخرجه الترميذي
“ Dari Abdullah Ibnu Amar Al-Ash Radliyaallah
anhu bahwa Nabi SAW Bersabda :Keridhoan Allah Swt tergantung kepada keridhoan Orang
tua dan kemurkaan Allah tergantung dari Kemurkaan Orang Tua”. Riwayat
At-tirmidzi.
Sholawat serta salam kita mohonkan kepada
allah swt semoga tercurahkan kepada junjungan kita Muhammad SAW beserta
keluarganya, sohabat dan para pengikutnya, beliaulah yang memberikan tauladan
kepada kita, bagaiman kita harus menghormati dan berbakti kepada orang tua kita
seperti yang rasul contohkan “begitu taatnya, baktinya beliau kepada kedua
orang tuanya”. Dan semoga kita
yang hadir ditempat ini, khususnya mendapatkan syafaat baginda rasul SAW di
yaumul kiyamah.
Saya juga tak lupa kepada pembawa
acara yang telah memberikan waktu dan tempat kepada saya untuk berbagi
pengalaman dengan teman teman di pagi
yang cerah ini. saya berdiri disini akan
membawakan tema yang berjudul :
“ Menghormati serta Menyayangi Orang Tua Dan Guru “
Perlu kita ketahui bahwa orang tua adalah orang yang paling mulia
yang harus kita hormati serta kita sayangi. Terutama seorang ibu, orang yang bersusah payah dan rela mengorbankan
jiwa dan raganya demi melahitkan seorang anak. Serta seorang ayah yang setiap
hari ia rela membanting tulang demi keluarganya. Allah berfirman dalam
al-qur’an surat an-nisa ayat 36 :
* (#rßç6ôã$#ur ©!$#
wur
(#qä.Îô³è@ ¾ÏmÎ/ $\«øx© ( Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $YZ»|¡ômÎ)
ÉÎ/ur 4n1öà)ø9$#
4yJ»tGuø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur
Í$pgø:$#ur Ï 4n1öà)ø9$#
Í$pgø:$#ur É=ãYàfø9$#
É=Ïm$¢Á9$#ur
É=/Zyfø9$$Î/
Èûøó$#ur
È@Î6¡¡9$#
$tBur ôMs3n=tB
öNä3ãZ»yJ÷r& 3 ¨bÎ)
©!$#
w
=Ïtä
`tB tb%2 Zw$tFøèC #·qãsù
“ sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang
jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
Dari ayat diatas sudah jalas bahawa kita untuk
berbuat baik dan selalu menyayangi kedua orang tua kita, tidak hanya ibu saudra-saudara
akan tetapi juga bapak kita. Coba kalian bayangkan seandainya kamu nantinya
menjadi seorang bapak atau ibu, begitu dahsyatnya begitu beratnya membimbing
dan membesarkan kita semua, bahkan mereka tidak hanya berkorban seperti pengorbanan
anak terhadap orang tua, tetapi mereka melebihi itu, bahkan nyawa pun mereka
pertaruhkan. Orang tua mana, orang tua siapa yang rela dan senenang ketika
melihat anaknya lapar, haus dan sedih, bahkan seorang bapak atau ibu yang
memiliki kehidupan yang buruk seperti preman, pelacur, pembunuh, dan lainyaia tidak
mau anaknya mengikuti jejaknya, tidak mau buah hatinya juga tersesat seperti
dirinya. Oleh karena itu kita sebagai generasi muda yang budiman mari kita
kasih sayangi kedua orang tua kita, kita cintai keduanya seperti mereka
mencintai dan menyayangi kita.
Allah SWT juga berfirman dalam Al Qur an surat al-isr’a ayat 24
ôÙÏÿ÷z$#ur $yJßgs9 yy$uZy_ ÉeA%!$#
z`ÏB
ÏpyJôm§9$# @è%ur Éb>§ $yJßg÷Hxqö$# $yJx. ÎT$u/u
#ZÉó|¹
ÇËÍÈ
dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh
kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya,
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
Dari ayat diatas suadah sangat jelas kita sebagai anak untuk
menyayangi dan mengasihi kedua orang tua kita, seperti dalam lagu “doa Anak
Sholeh”
Hormati orang tua mu
(dengan cinta dan kasih )
Sayangilah selalu
(dengan sepenuh hati)
Jagalah ucapan mu
(jangan mencaci maki)
Taatilah Selalu
(Jadi lah anak berbakti)
Allahumagfirlanaa dzunuubanaa wa dzunuba waa lidaina,,warhamhumaa
kamaa robayanaa sighoroo
Yaa allah ya robi
Ampunilah Dosa Kami
Segala Dosa ibu bapak kami
Sayangilah keduanya
Yang telah mendidik kami semua
Dari kecil sehingga dewasa
Sahabat-sahabat ku yang
dirahmati allah SWT
Begitu indahnya lagu diatas seperti indahnya orang tau menyayangi
kita semua, bagitu bahagianya mereka tatkala melihat anak-anaknya tumbuh dewasa
dan berbakti kepadanya, menyayanginya, dan selalu ada buatnya.
Dalam hadist juga dijelaskan
قيل " يا
رسول الله صلي الله عليه وسلم " من أبر ؟ قال أمك ,قال ,ثم من ؟ قال أمك ,
قال ثم من ؟ قال أمك و قال ثم من "قال؟ أباك
Yang
artinya :
Datang suatu ketika kepada rosullullah SAW, dan berkata Wahai Rosul
Siapa orang yang harus ku muliakan,?nabi
bersabda Ibu mu, dia berkata “kemudian siapa? Nabi bersabda Ibu, dia berkata kemudian
siapa? Nabi Bersabda “Ibu Mu” dia berkata, Kemudian Siapa? Nabi bersabda Bapak
Mu.
Sahabat-sahabat ku yang dimuliakan Allah Swt.
Begitu banyak kita membaca,
mendengar ketauladan anak kaada orang tuanya dari berbagai sumber baik dari
al-qur’an, Hadist dan bahkan Internet yang setiap waktu bisa kita akses dengan
mudah. Akan tetapi era melenium era globalisasi ini kita melihat dan
menyaksikan di sekeliling kita fenomena-fenomena yang mungkin tidak sesuai
dengan hati nurani, ajaran, aqidah kita. Kita menyaksikan di media masa, media
kabar bahkan sekliling kita yang sunggung ironis” banyak anak yang membunuh
orang tuanya, anak yang memperkosa ibunya, dan bahkan juga sebaliknya orang tua
yang melakukan hal tersebut kepada buah hatinya.
Marilah
para sahabat, kita merawat orang tua kita sebaik-baiknya dan senantiasa
mendahulukan kepentingan mereka, merupak suatu kesalahan bila terlalu
memanjakan anak dan pasangan tetapi mengacuhkan kepentingan orang tua yang
seharusnya dijunjung tinggi dalam suatu keluarga. Orang tua memamng membutuhkan
materi (uang) tetapi masih ada yang lebih penting bagi mereka yaitu kasih
sayang. Menyapa, menanyakan kabar mereka, kesehatan mereka, apa yang mereka
inginkan merupakan suatu hal sepele namun berarti besar bagi mereka, dan kita
tentunya tidak melupakan jasa seorang guru, yang memang seorang guru yang
kehadirannya penuh makna memaknakan arti dunia dengan segala isinya agar kita
anak didiknya mengerti dan paham harus berbuat apa ketika hidup terjun
didalamnya.
Ya memang seorang guru yang dengan segala
keterbatasannya memberikan jasa yang tidak akan ternilai walaupun kita menukar
dunia dengan segala isinya untuk hnya bisa mensejahterakan dengan jasa yang
mereka berikan untuk kita, Guru 4 huruf penuh jasa.
Memang seorang guru yang menjadi pelita
bangsa, menerangi dan menuntun kami anak didiknya ke arah impian yang penuh
dengan cahaya harapan untuk agar bisa hidup sejajar dengan bangsa lain di
dunia. 4 huruf pelita bangsa.
Hadirin yang saya hormati
Siapakah Guru ? Siapakah yang pantas
menyandang 4 huruf penuh makna, 4 huruf penuh jasa dan 4 huruf pelita bangsa?
Siapakah mereka ?mereka kah yang setiap hari berdiri didepan kita memberikan
penjelasan mengenai sesuatu dikelas. Atau mereka kah yang duduk di samping kita
saat kita menerima penjelasan di kelas, ataukah mereka yang membiayai kita agar
duduk dan menerima penjelasan di kelas.
Siapakah yang pantas menyandang gelar prestisi
sebagai guru; pendidik, teman ataukah orang tua kita? Tapi bagi saya mereka
bertigalah yang pantas menyandang gelar guru. Merekalah yang mewakili
lingkungan belajar yang mempengaruhi karakter kita anak bangsa kedepan.
Pendidik dengan lingkungan sekolahannya, teman dengan lingkungan pergaulannya
ilmu dan orang tua dengan lingkungan sekolahnya. Para pelajar (santri) tidak
akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaatnya, tanpa mau
menghormati ilmu, ahli ilmu dan guru, karena ada yang mengatakan bahwa
orang-orang yang telah berhasil mereka ketika menuntut ilmu, sangat menghormati
tiga hal tersebut. Dan orang –orang yang tidak berhasil dalam menuntut ilmu,
karena mereka tidak mau menghormati atau memuliakan ilmu dan gurunya.
Ada yang mengatakan bahwa menghormati itu
lebih baik dari pada mentaati. Karena manusia tidak dianggap kufur karena
bermaksiat. Tetapi dia menjadi kufur karena tidak menghormati atau memuliakan
perintah allah swt. Sayyidina Ali Karramallah Wajhah berkata;” Aku adalah
sahaya (budak) orang yang mengajarku walau satu huruf, jika dia mau silahkan
menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya.”
Ada sebuah syair yang berbunyi,”tidak ada hak yang lebih besar kecuali haknya
guru. Ini wajib dipelihara oleh setiap orang islam. Sungguh pantas bila seorang
guru yang mengajar, walau hanya satu huruf , diberi hadiah seribu dirham
sebagai tanda hormat padanya. Sebab guru
mengajarmu satu huruf yang kamu butuhkan dalam agama, dia ibarat bapak mu
dalam agama Imam Asy-Syairazy berkata;” Guru-guruku berkata” barang siapa yang
ingin anaknya menjadi orang alim, maka dia harus menghormati ahli fiqh. Dan
memberi sedekah pada mereka.jika ternyata anaknya tidkan menjadi orang alim,
maka cucunya yang akan menjadi orang alim’. Termasuk meghormati guru ialah,
hendaknya seorang murid tidak berjalan didepanya, tidak duduk didepannya dan
tidak melalui bicara, kecuali ada ijinnya. Tidak banyak bicara dihadpan guru tidak bertanya sesuatau bila
guru sedang capek atau bosan. Harus menjaga waktu, jangan mengetuk pintunya,
tapi sebaliknya menunggu sampai beliau keluar. Alhaisl, seorang santri harus
mencari kerelaan hati guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan ia murka.
Mematuhi perintahnya asal tidak bertentangan dengan agama, karena tidak boleh
taat pada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah SWT, termasuk menghormati guru
adalah menghormati putra-putrinya dan orang yang ada hubungan kerabat
dengannya.
Guru kami burhanuddin, pengarang kitab
Al-hidayah, bercerita bahwa salah seorang pembesar negeri Bukhara duduk dalam
suatu mejelis pengajian. Ditengah-tengah pengajian dia sering berdiri lalu oleh
temanya ditanya, mengapa berbuat demikian, dia menjawab, sungguh putra guru ku
sedang bermain dijalan, oleh karena itu jika aku melihatnya aku berdiri untuk
menghormatinya.
Sahabat-sahabat ku yang budiman
Al-Qadhi fahruddin adalah seorang imam di
daerah marwa yang sangat dihormati oleh para pejabat negara,. Beliau berkata”
Aku mendapat kedudukan ini karena aku menghormati guru ku, Abi Yazid Addabusi,
Aku selalu melayani beliau, memasak makananya, dan aku tak pernah ikut makan
bersamanya” pada suatu hari Imam Halwani pergi dari Bukhara, bermukim di sebuah
desa selama beberapa hari, karena ada satu masalah yang beliau hadapi, kemudian
semua muridnya menjenguk beliau, kecuali yang bernama Abu Bakar, lalu ketika
bertemu Abu bakar beliau bertanya,” mengapa kamu tidak ikut menjenguk ku? Dia
menjawab, “maaf guru, saya sibuk melayani ibu ku,”Lalu beliau berkata,”Semoga
kamu diberi panjang umur, tapi kamu tidak akan diberi ketenangan dalam mengaji.
Kenyataanya kata-kata guru tersebut betul-betul terjadi. Abu Bakar tinggal di
desa sepanjang waktunya. Oleh karena itu seoarang santri tidak boleh menyakiti
hati seorang gurunya, karena belajar dan ilmunya tidak akan diberi berkah. Kata
seorang penyair “ sungguh guru dan dokter keduanya tidak akan menasehati
kecualai bila dimuliakan. Maka rasakan penyakitmu jika kamu membantah pada
dokter dan terimalah kebodohanmu bila kamu membangkang pada guru”.
Dikisahkan
bahwa khalifah Harun Ar-Rasyid mengirim putranya kepada ustadz Ashmu’i supaya
diajari ilmu dan akhlak yang terpuji, kemudian pada suatu hari Harun Ar-Rasyid
melihat Ashmu’i sedang wudhu membasuh kakinya dengan air yang dituangkan oleh putra
khalifah. Melihat hal itu, Harun Ar – Rasyid berkata, “ Aku kirim anakku
kepadamu supaya kamu ajari ilmu dan budi pekerti, lalu mengapa tidak kamu
perintah dia untuk menuangkan air dengan tangan kiri supaya yang kanan bisa
membasuh kakimu? Termasuk menghormati ilmu ialah menghormati kitab.
Seorang
santri dilarang memegang kitab kecuali dalam keadaan suci. Imam Syamsul A’imah
Al Halwani berkata, “Aku memperoleh ilmu ini karena aku menghormatinya. Aku tak
pernah mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci.” Imam Sarkhasi pernah sakit
perut, namun beliau tetep mengulang – ulang belajarnya, dan berwudhu, sampai
tujuh belas kali pada malam itu, karena beliau tidak mau belajar kecuali dalam
keadaan suci. Ilmu itu adalah cahaya, dan wudhu juga cahaya. Sedangkan cahaya
ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudhu.
Para
penuntut ilmu dilarang meletakkan kitab di dekat kakinya ketika duduk bersila.
Hendaknya kitab tafsir diletakkan di atas kitab – kitab lain, dan hendaknya
tidak meletakkan wadah tinta di atas kitab, lalu beliau berkata kepadanya,
“Anda tidak akan memperoleh manfaat dari ilmumu.” Imam Qadhikhan berkata, “Jika
perbuatan itu (meletakkan wadah tinta di atas kitab) tidak bermaksud meremehkan
kitab tersebut, maka tidak apa – apa, tapi sebaiknya diletakkan di tempat
lain.”
Saudaraku seiman yang dirahmati Allah SWT
Santri
harus bagus dalam menulis kitabnya. Tulisannya harus jelas. Tidak terlalu kecil
sehingga sulit dibaca. Abu Hanifah pernah melihat muridnya yang tulisannya
sangat kecil – kecil sehingga tidak jelas, lalu beliau menegurnya, “Jangan
terlalu kecil dalam menulis, karena jika kamu sudah tua, pasti menyesal. Dan
bila kamu mati, kamu akan dimaki orang yang melihat tulisanmu.” Yakni jika kamu
sudah tua dan pandangan matamu sudah lemah, maka kamu akan menyesali
perbuatanmu itu. Seharusnya kitab itu dibentuk persegi empat, begitu yang biasa
dikerjakan oleh Imam Abu Hanifah. Supaya mudah dibawa dan dibaca. Seharusnya
tidak memakai tinta merah dalam menulis kitab, karena hal itu kebiasaan para
filosuf, bukan kebiasaan ulama salaf. Bahkan guru kami ada yang tidak mau
memakai kendaraan berwarna merah, termasuk menghormati ilmu adalah menghormati
teman dan orang yang mengajar. Para santri harus saling mengasihi dan
menyayangi apalagi kepada guru supaya ilmunya berfaedah dan diberkati.
Hendaknya para penuntut ilmu mendengarkan masalah tersebut seribu kali.
Ada
yang berkata, “Siapa yang tidak menghormati / memperhatikan satu masalah,
walaupun ia pernah mendengarnya seribu kali, maka dia bukan termasuk ahli imu.”
Seorang santri tidak patut memilih bidang ilmu sendiri, tapi harus
menyerahkannya kepada guru. Karena guru lebih tahu mana ilmu yang cocok dengan
watak / kecenderungan muridnya.
Syaikh
Burhanul Haqqi berkata, “Pada zaman dahulu para santri itu menyerahkan
persoalan mengajinya kepada guru mereka, dan ternyata mereka berhasil meraih
cita – citanya.” Berbeda dengan sekarang para murid selalu memilih pengajiannya
sendiri, akibatnya mereka tidak berhasil meraih ilmu yang dicita – citakan. “Dikisahkan
bahwa Muhammad bin Ismail Al Bukhari, memulai mengaji dari bab shalat di
hadapan Muhammad bin Al Hasan. Lalu gurunya itu berkata, “Pergilah dan belajar
ilmu Hadist.” Gurunya berkata begitu karena gurunya tahu tabiat dan
kecenderungan Imam Bukhari, dan dia pun menuntut ilmu Hadist, akhirnya dia
menjadi pelopor seluruh imam ahli hadits. Santri tidak patut duduk dekat
gurunya ketiga mengaji kecuali darurat, tapi sepatutnya ada jarak antara santri
dan guru, santri harus meninggalkan akhlak yang tercela, karena akhlak yang
tercela itu ibarat anjing yang samar.
Rasulullah bersabda, “Malaikat tidak mau
memasuki rumah yang ada gambar atau anjing.” Padahal manusia belajar itu
belajar melalui perantara malaikat. Akhlak yang tercela ini bisa dilihat dalam
kitab – kitab yang menerangkan akhlak karena kitab ini tidak memuat hal itu. Jadi,
teman – teman harus menjauhi akhlak yang tercela lebih – lebih sifat sombong.
Seorang penyair berkata “Ilmu adalah musuh orang yang congkak dan sombong,
sebagaimana banjir menjadi musuh dataran tinggi.”
Sekian
uraian yang saya sampaikan, mudah – mudahan ada manfaatnya bagi kita semua.
Mohon maaf apabila ada kata – kata yang kurang berkenan di hati.
Wabillahitaufiq
walhidayah wassalamualaikum wr.wb
Comments
Post a Comment