Syifa’urohmah
MTs
assalafiyyah mlangi
Yang Terhormat Dewan Juri
Yang saya hormati Guru Pendamping
Serta peserta Lomba Yang berbahagia
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم
ورحمة الله وبركاته
إن الحمد لله نحمده و نستعستعينه و نستغفره , و نعود
بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا , من يهد الله فلا مضل له من يضلل فلاهادي
له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدأ عبده ورسوله. اللهم
صل وسلم علي نبينا ورسولنا محمد صلي الله عليه و سلم و علي اله وأصحابه ومن تبعهم
بإحسان الي يوم الدين, (أما بعد )
Marilah kita panjatkan rasa syukur
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya kepada kita
sehingga pada kesempatan kali ini kita dapat berkumpul di tempat yang penuh
barokah ini amein, dan hanya allah lah yang memberikan kita kesehatan jasmani
dan rohani sehingga kita dapat menjalankan aktivitas kehidupan. Sungguh
luarbiasa yang allah berikan kepada kita semua seperti yang di firmankan allah
SWT Dalam al-Qur’an.
bÎ)ur (#rãès? spyJ÷èÏR «!$# w !$ydqÝÁøtéB 3 cÎ) ©!$# Öqàÿtós9 ÒOÏm§ ÇÊÑÈ
“ dan jika kamu menghitung-hitung nikmat
allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumplahnya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha pengampun dan lagi Maha Penyayang .(Surat An-Nahl, ayat18).
Wahai saudara-saudaraku, kita tidak akan
mampu menghitung nikmat Allah Swt. Mengapa tidak bisa ? Karena terlalu
Besarnya. Segala puji bagi Allah Swt, belum sempat bibir kita mengucap syukur
kepada allah ketika nikmat itu datang, maka datang lagi nikmat Allah yang
lainnya. Betapa besarnya nikmat Allah swt.
Makna yang dikemukakan pakar diatas dapat
diperkuat dengan beberapa ayat Al-Qur’an yang memperhadapakan kata syukur
dengan kufur, antara lain dalam QS. Ibrahim (14):7:
øÎ)ur c©r's? öNä3/u ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯RyÎV{ ( ûÈõs9ur ÷Länöxÿ2 ¨bÎ) Î1#xtã ÓÏt±s9 ÇÐÈ
“Jika kamu bersyukur
pasti akan ku tambah (nikmat Ku) untuk mu, dan bila kamu kufur, maka
sesungguhnya siksa ku amat pedih”.
Tak lupa sholawat serta salam senantiasa
kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang mana
beliaulah yang mengajarkan rasa syukur dan sebagai teladan bagi kita semua “
Kita mungkin pernah mendengar dan membaca historis ataupun cerita yang beliau
contohkan, Tauladankan dalam kehidupan sehari-hari dengan kehidupan yang begitu
sederhana, selalu bersyukur atas nikmat yang allah berikan, tidak seperti yang
kita rasakan dalam kehidupan manusia pada era globalisasi saat ini, yang
dikelilingi dengan kehidupan yang hedonis, matrealis, serta happy dan funs.
Manusia sekarang sudah lupa bahwa yang allah berikan itu hanyalah titipan belaka,
yang suatu saat akan di ambil oleh sang pemiliknya. Manusia saat ini lupa kalau
kehidupan di dunia ini hanya sebentar “urep kui mong mamper ngombe “ tidak
seperti yang ia bayangkan. Seperti alunan sair.
URIP KUWI
MUNG MAMPER NGOMBE
ORA BAKAL
UREP SELAWASE
OPO WAE SING
ONO NING NDUNYO
KABEH KUWI
BAKALE SIRNO
YEN WIS
TEKAN WANCINE
SOPO WAE
BAKAL DIKERSA’ KE
DITIMBALI
KARO SENG KUOSO
DITAKONI
AMALMU NING NDUNYO
SING BECIK,
BAKAL MLEBU SURGA
SING OLO,
MLEBU NEROKO
MULO KABEH
KOWE MANUNGSO
DO
ELINGO.....
Oleh karena itu wahai sahabatku yang
budiman dan seiman, mari kita budayakan kehidupan yang agamis, kehidupan yang
Rosullah contohkan kepada kita yaang selalu hidup sederhana, selalu
mengedepankan rasa syukur.
Kata terimaksih yang bisa saya ungkapakan
dan ucapkan kepada pembawa acara yang telah memberikan kepada saya waktu yang
singkat untuk menyampaikan pidato dengan tema;
SYUKUR
Sungguh indah dataran gambut
Angin menyusur di pinggir desa
Alhamdulillah kita menyebut
Tanda bersyukur kepada yang Esa..
Angin menyusur di pinggir desa
Alhamdulillah kita menyebut
Tanda bersyukur kepada yang Esa..
Wahai Sahabat-sahabat ku yang budiman
Tidak salah memang
punya keinginan. Namanya saja manusia. Tapi sudahkah kita syukuri apa yang
sudah kita terima?
Ini pertanyaan yang
harus kita pertanyakan kepada diri kita. Jangan-jangan yang ada saat ini pun
belum kita syukuri, lalu kita sudah kepengen ini, itu dan sebagainya. Padahal
kita lupa Bahwa rasa syukur merupakan rasa terimaksih kita. Rasa bersyukur kepada Allah adalah perintah barang siapa yang tidak
bersyukur berarti juga ia termasuk kufur seperti yang di firmankan dalam
al-qur’an ( QS. Al-Baqarah: 152).
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah (berdzikirlah) kamu kepada-Ku
niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah
kamu kufur (mengingkari nikmat)-Ku” (QS. Al-Baqarah: 152).
“Dan
(ingatlah juga)“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, namu jika (sebaliknya) kamu justru kufur (mengingkari
nikmat-Ku), maka esungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).
وَإِذْ
تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ
عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Ya ayuhal ikhwan rohimakumulah
Kita tidak akan bisa menghitung, mengira berapa banyak nikmat yang
Allah berikan, mulai dari nikmat kesehatan, nikmat iman, nikmat masih bisa
berfikir dan berbagai nikmat lagi yang tak bisa kita hitung satu persatu. Namun
yang menjadi permasalahannya adalah mengapa kita tidak bisa bersyukur akan
semua nikmat yang Allah berikan kepada kita ? dan mengapa kita selalu berfikir
bahwa nikmat itu berupa materil / uang.
Coba kita bayangkan wahai saudara-saudara ku, kita mampu menghirup
udara pagi hari ini tanpa beban tanpa batasan tanpa di pungut biaya, coba
kalian bandingankan ketika kalian sakit kemuadian kekurangan oksigen, berapa
uang yang harus kalian keluarkan, hanya untuk oksigen, tetapi hari ini kalian
bebas mau menghirup udara sebanyak mungkin tanpa harus membayar.
Sahabat-sahabat ku yang dimuliakan allah
Bersyukur adalah kebutuhan. Karena semua tentu ingin bertambahnya
nikmat, dan syarat serta jalan untuk itu adalah bersyukur. Sehingga semakin
banyak dan baik seseorang bersyukur, maka pasti akan semakin banyak dan
bertambah nikmat Allah atasnya. Dan jika nikmat berkurang bagi seseorang, maka
pasti itu karena ia kurang atau tidak bersyukur. Itu kaidahnya! (Lihat: QS.
Ibrahim: 7 diatas).
Bersyukur adalah kebutuhan. Karena dengan
banyak bersyukur seseorang akan selalu stabil, tenang, tenteram, damai dan
bahagia dalam hidupnya, bagaimanapun keadaannya. Sedangkan jika tidak bersyukur
seseorang akan selalu berada dalam kondisi labil, tidak tenang, tidak tenteram,
tidak damai, dan tidak bahagia. Karena ia akan selalu mengeluh dan mengeluh.
Dan orang yang banyak mengeluh adalah orang yang tidak atau sedikit bersyukur.
Boleh tidak saya bertanya
pada teman-teman, Bagaimana sich cara bersyukur kepada Allah itu ?
Setidaknya ada tujuh kewajiban
untuk membuktikan syukur kita kepada-Nya:
Pertama Banyak
bertafakkur memikirkan dan merenungkan nikmat-nikmat Allah yang sangat banyak
tak terhingga (كَثْرَةُ التَّفَكُّرِ فِي نِعْمَةِ الله). Khususnya pada saat-saat dan dalam kondisi-kondisi diamana
seseorang sedang diuji dengan hilangnya sebagain nikmat darinya, atau ia merasa
akan kurang atau sedikitnya nikmat Allah yang diterimanya. Karena nikmat Allah
bagi siapapun itu sangat beragam dan banyak sekali tak terhitung. Maka jika
seseorang merasa nikmat yang diterimanya sangat kurang atau sangat sedikit,
yang sampai membuatnya banyak mengeluh dan bahkan ada yang sampai protes dan
komplain kepada Allah, bahkan lagi sampai-sampai ada yang menuduh Allah tidak
adil. Itu semua pasti karena ia tidak atau kurang bertafakkur untuk memikirkan
dan merenungkan nikmat-nikmat-Nya yang sangat banyak sekali, sehingga tidak
menyadarinya dan tidak mengetahuinya.
“Dan Dia telah memberikan
kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya.. Dan jika
kamu (hendak) menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.
Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat kufur (mengingkari nikmat
Allah)” (QS. Ibrahim: 34)..
“Dan jika kamu (hendak)
menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. A-Nahl:
18).
Kedua Mengakui nikmat-nikmat Allah (الاعْتِرَافُ
بِنِعْمَةِ الله). Dengan banyak bertafakkur,
pasti kita akan mengetahui dan menyadari banyak sekali nikmat Allah atas kita,
yang semula tidak kita ketahui dan sadari. Nah kewajiban syukur berikutnya
setelah tahu dan sadar adalah mengakui bahwa, semua yang ada pada kita itu,
bahkan termasuk yang belum kita ketahui dan sadari sekalipun, adalah nikmat,
karunia, anugerah dan pemberian dari Allah, sebagai bagian dari bukti luasnya
rahmat-Nya. Dan pengakuan terhadap nikmat Allah adalah salah satu bentuk dan
bukti syukur yang sangat istimewa nilainya. Dan karena sikap tidak mengakui itu
sama dengan mengingkari. Dan mengingkari sama dengan mengkufuri. Karena memang
arti kufur adalah ingkar. Lalu bukankah adzab yang menimpa Qarun adalah akibat
kesombongannya yang tidak mau mengakui bahwa, kekayaannya adalah nikmat karunia
Allah?
عَن عبد الله بنِ غَناَم البَيَاضي رضي
الله عنه أَنَّ رسولَ الله صلَّى اللهُ علَيهِ وسَلَّمَ قالَ: “مَن قالَ حِيْنَ
يُصْبِحُ: (اللهمَّ ما أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِن خَلْقِكَ
فَمِنْكَ وَحْدَكَ لا شَرِيكَ لَكَ، فَلَكَ الحَمْدُ ولَكَ الشُّكْرُ)، فَقَدْ
أَدَّى شُكْرَ يَوْمِهِ، ومَنْ قَالَ مِثْلَ ذلِكَ حِينَ يُمْسِي فَقَدْ أَدَّى
شُكْرَ لَيْلَتِهِ” (رواه أبو داود والنسائي وابن حبان في صحيحه).
Dari ASbdullah bin Ghanam
Al-Bayadhi radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Barangsiapa yang pada pagi harinya membaca dzikir ini:
Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au bi-ahadin min khalqika, famin-Ka
wahdaKa laa syariika laKa (Ya Allah, nikmat apapun yang ada padaku, atau pada
siapapun diantara makhluk-Mu, di pagi ini semua itu hanyalah berasal dari-Mu
semata, tiada sekutu bagi-Mu, segala puji hanya untuk-Mu, dan segala ungkapan
syukurpun hanya untuk-Mu), maka berarti ia telah menunaikan kewajiban syukurnya
untuk hari itu. Dan barangsiapa yang mengucapkan dzikir seperti itu pada sore
harinya, maka berarti ia telah memenuhi kewajiban syukurnya untuk malam itu”
(HR. Abu Dawud, An-Nasaa-i dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya).
”Qarun berkata: “Sesungguhnya
aku diberi semua harta itu, hanya karena ilmu yang ada padaku”. Apakah ia tidak
mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya
yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah
perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka, Maka
Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya
suatu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah, dan tiadalah ia
termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya) (QS. Al-Qashash: 78&81).
Sahabat-sahabat ku yang
dimuliakan allah
Ketiga Mengungkapkan rasa syukur atas nikmat-nikmat
Allah yang tidak pernah putus (التَّعْبِيْرُ عَنِ الشُّكْرِ). Baik dengan pengucapan lesan melalui berbagai kalimat dzikir
pujian, sanjungan dan pengagungan Allah Azza wa Jalla, seperti tahmid, tasbih,
takbir, tahlil, dan lain-lain (lihat materi dzikrullah), maupun melalui amal
perbuatan seperti sujud syukur.
عَن عبدِ الّرحْمن بنِ عَوْفٍ رضي الله
عنه قالَ: سَجَدَ النَّبِيُّ صلَى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ فَأَطَالَ السُّجُودَ،
ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: “إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَبَشَّرَنِي،
فَسَجَدْتُ لِلّهِ شُكْرًا” (رواه أحمد وصَحَّحَه الحاكم).
Keempat Menjaga dan memelihara setiap nikmat dengan
sebaik-baiknya sebagai amanah dari Allah (حِفْظُ النِّعْمَةِ وَالمُحَافَظَةُ
عَلَيْهَا). Oleh karena itu
segala prilaku dan tindakan yang berakibat penyia-nyiaan, perusakan dan apalagi
penghilangan setiap nikmat pemberian Allah, baik itu nikmat fisik, harta maupun
yang lainnya,.adalah dilarang keras dan diharamkan. Seperti minuman keras yang
merusak akal, narkoba yang merusak semuanya, merusak dan menyakiti anggota
tubuh sendiri, membuang harta milik sendiri, apalagi membunuh diri sendiri,
semuanya diharamkan dan merupakan dosa-dosa besar sesuai tingkatan masing-masing.
“Dan belanjakanlah (harta
bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah: 195).
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم:َ
“إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى
لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا
بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ
وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَال”.ِ
Dari Abu Hurairah dia berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai
dari kalian tiga perkara dan membenci dari kalian tiga perkara; Dia menyukai
kalian supaya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu
apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya dan tidak berpecah belah. Dan
Dia membenci dari kalian desas-desus/rumor /gosip, banyak bertanya (yang tidak
perlu) dan tindakan menyia-nyiakan harta.” (HR. Muslim).
أَنَّ
ثَابِتَ بْنَ الضَّحَّاكِ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ بَايَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال:َ “مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ بِمِلَّةٍ غَيْرِ
الْإِسْلَامِ كَاذِبًا فَهُوَ كَمَا قَالَ وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ
عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ عَلَى رَجُلٍ نَذْرٌ فِي شَيْءٍ لَا
يَمْلِكُهُ”.
Bahwa Tsabit bin adh-Dhahhak
telah mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
membaiatnya di bawah pohon. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa bersumpah dengan agama selain agama Islam secara dusta maka
keadaannya adalah seperti ucapannya. Barangsiapa membunuh dirinya sendiri
dengan sesuatu (alat) maka dia akan disiksa dengan alat tersebut pada Hari
Kiamat. Dan seseorang tidak berhak (tidak dibenarkan) bernadzar dengan sesuatu
yang tidak dimilikinya.” (QS. Muttafaq ‘alaih).
Kelima Memanfaatkan
setiap nikmat sesuai tujuan yang dikehendaki dan diridhai Sang Pemberi, Allah
Ta’ala (تَسْخِيْرُ النِّعْمَةِ لِمَا يُرْضِي
المُنْعِمِ), serta berupaya
memenuhi segala konsekuensinya. Karena setiap kita nanti akan ditanya dan
diminta pertanggungjawaban atas setiap nikmat pemberian Allah, telah dipakai
untuk apa? Apakah telah sesuai dengan kehendak dan keridhaan Sang Pemberi
ataukah tidak? Dan balasan serta pembalasan akan diberikan sesuai dengan bentuk
dan tingkat pertanggungjawaban.
“Dan janganlah kamu ikut-ikutan
saja dalam apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabannya” (QS. Al-Israa’: 36).
”Kemudian kalian pasti akan
ditanyai (diminta pertanggungjawaban) pada hari itu tentang nikmat-nikmat (yang
kamu terima dan nikmati di dunia)” (QS. At-Takaatsur: 8).
عَنْ
أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى
يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ
مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ
أَبْلَاهُ” (رواه الترمذي، و قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ).
Dari Abu Barzah Al Aslami
berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Kedua telapak kaki
seorang hamba tidak akan bergeser (dari pengadilan Allah) pada hari kiamat
sampai (selesai) ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya
untuk apa ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia
belanjakan dan tentang fisiknya untuk apa ia gunakan.” (HR. At-Tirmidzi, beliau
berkata: Hadits ini hasan shahih).
“Dan sesungguhnya Kami jadikan
untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, (karena) mereka
mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)
dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang
lalai” (QS. Al-A’raaf: 179).
Keenam
Bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam upaya ber-taqarrub (mendekatkan diri)
kepada Dzat Pemberi, Allah ‘Azza wa Jalla (المُجَاهَدَةُ فِي التَّقَرُّبِ إِلَى
المُنْعِمِ). Dan itu dengan beragam amal dan ibadah
sesuai kemampuan, kondisi dan situasi setiap orang.
عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: “يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى
مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ
صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ
بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ
ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى”
Dari Abu Dzarr dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Setiap pagi dari setiap
persendian masing-masing kalian harus ada sedekahnya. Dan setiap tasbih adalah
sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap
takbir adalah sedekah, setiap amar ma’ruf adalah sedekah, setiap nahi mungkar
adalah sedekah, dan semua itu bisa tercukupi dengan dua rakaat shalat dhuha.”
(HR.Muslim).
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنْ
اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَة:ُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا
يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ
وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ: “أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا”،
فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ
فَقَرَأَ ثُمَّ رَكَعَ.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha
bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam hingga
kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, mengapa Engkau
melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu (andaipun ada) yang telah
lalu dan yang akan datang? Beliau bersabda: “Apakah aku tidak suka jika menjadi
hamba yang bersyukur?” Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat (malam) sambil
duduk, apabila beliau hendak ruku’ maka beliau berdiri kemudian membaca
beberapa ayat lalu ruku.’ (HR. Muttafaq ‘alaih).
Ketujuh
Banyak-banyak beristighfar memohon ampunan kepada Allah Dzat Maha Pemurah dan
Maha Pemberi karena ketidakmampuan dalam memenuhi kewajiban syukur yang
seharusnya dan yang sebenar-benarnya (كَثْرَةُ الاسْتِغْفَارِ للتَّقْصِيْر
فِي أَدَاءِ الشُّكْرِكَمَا يَنْبَغْي).
Karena betapapun seseorang berupaya optimal dan maksimal dalam memenuhi
kewajiban syukur kepada Allah atas berbagai nikmat yang diterimanya, namun
tetap tidaklah mungkin ia mampu. Sederhana saja, bagamana mungkin ia bisa
memelakukan kewajiban syukur seluruhnya, sementara amal-amalnya tetap saja
terbatas dan bisa dihitung, yang tentu tidak akan sebanding dengan
nikmat-nikmat Allah yang tidak terbatas dan tidak terhingga? Lalu mari
renungkan, apa perintah Allah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam,
dalam rangka mensyukuri nikmat puncak yang telah beliau dan para sahabat
idam-idamkan sepanjang usia dakwah Islam, yang berupa kemenangan gilang
gemilang, penaklukan kota Mekkah dan berbondong-bondongnya masyarakat jazirah
Arab masuk Islam? Bukankah beliau diperintahkan mensyukuri semua itu, justru
dengan bertasbih, bertahmid dan beristighfar?
“Apabila telah datang
pertolongan Allah dan kemenangan (penaklukan Mekkah).Dan kamu lihat manusia
masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka (sebagai bentuk syukur)
bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan beristighfarlah kepada-Nya. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Penerima taubat” (QS. An-Nashr: 1-3).
Kehidupan
itu indah koq kalau dijalani dengan kebersyukuran. Apa yang ada di sekeliling
kita, kita nikmati dulu sebagai pemberian Allah Yang Maha Baik. Keinginan
dipasang, tapi tidak menjadi pasung yang mengharuskan kita memenuhi keinginan
itu dengan membabi buta,
Mangan kupat nang pinggir segoro
Yen ono lepat, kulo nyuwun ngapuro
Yen ono lepat, kulo nyuwun ngapuro
Pak tani pergi ke sawah
Pulang-pulang membawa ikan
Jika tutur kata saya banyak yang salah
Mohon kiranya untuk dimaafkan
Pulang-pulang membawa ikan
Jika tutur kata saya banyak yang salah
Mohon kiranya untuk dimaafkan
والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته
Comments
Post a Comment